Rabu, 15 April 2026 | 03:53 WIB

LKS Digital Marketing 2026

LKS Digital Marketing 2026 Uji Kemampuan Siswa SMK dari Riset hingga Live Selling

foto

Peserta LKS Digital Marketing 2026 tingkat DIY berfoto bersama di Yogyakarta.

YOGYAKARTA, indoartnews.com – Lomba Kompetensi Siswa atau LKS SMK tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bidang Digital Marketing tahun 2026 tidak sekadar menguji kemampuan membuat konten, tetapi juga menempatkan peserta dalam simulasi dunia kerja yang nyata. Ajang yang digelar selama dua hari pada 7 hingga 8 April 2026 itu menguji siswa mulai dari riset pasar, penyusunan strategi, interaksi dengan pelanggan, hingga praktik penjualan secara langsung.

Kegiatan ini berlangsung di Yamaha Sumber Baru Motor, Jalan Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta, dan diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY bersama berbagai pemangku kepentingan. Dalam pelaksanaannya, peserta dihadapkan pada serangkaian aktivitas berbasis praktik yang dirancang mendekati kondisi industri sesungguhnya.

Ketua Asosiasi Komunitas Sales Indonesia atau KOMISI yang juga menjadi juri, Indra Hadiwidjaja, S.T., CFP, menyebut ajang tersebut menjadi momentum penting untuk mencetak talenta sales muda yang siap terjun ke dunia kerja. Menurut dia, LKS menjadi ruang untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan menjual yang nyata.

Hal senada disampaikan Koordinator Vokasi KOMISI, Sekar Tyas Nareswari, S.E., yang juga menjabat Store Manager AZKO serta Founder dan Master Sales Mentor Takon Pakar Edutainment. Ia menjelaskan, peserta tidak hanya dinilai dari kualitas konten yang dibuat, melainkan juga dari kemampuan membaca pasar, menyusun strategi, hingga menghasilkan respons dari customer. Dengan demikian, ukuran keberhasilan peserta bukan sekadar kontennya menarik, tetapi apakah strategi yang dibangun benar-benar bisa mendorong penjualan.

Perwakilan Yamaha sekaligus juri, Hadrianus Andri Fistulariyanto, menyebut keterlibatan industri menjadi bagian penting dalam pembelajaran peserta. Produk seperti Aerox dan Fazzio, kata dia, dihadirkan sebagai media pembelajaran agar siswa bisa langsung memakainya dalam role play, pembuatan konten, hingga live selling. Dengan cara itu, pengalaman yang diperoleh peserta dinilai lebih dekat dengan situasi lapangan.

Salah satu sesi yang paling menantang dalam kompetisi ini adalah live TikTok selama satu jam. Dalam sesi tersebut, peserta harus berinteraksi langsung dengan audiens sambil menawarkan produk secara real time. Di titik ini, kemampuan komunikasi, improvisasi, serta strategi penjualan benar-benar diuji dalam suasana yang dinamis dan penuh tekanan seperti dunia kerja sesungguhnya.

Selain live selling, peserta juga dinilai dari presentasi hasil riset pasar, penyusunan strategi marketing, serta kemampuan memanfaatkan fitur TikTok Ads untuk mengoptimalkan performa konten. Bagian penting lainnya adalah sesi role play di showroom, ketika peserta berperan sebagai tenaga penjual yang melayani pelanggan secara langsung dengan mengacu pada standar operasional prosedur atau SOP yang telah dipelajari sebelumnya.

Sekar menegaskan, melalui simulasi tersebut peserta tidak hanya dinilai dari cara berkomunikasi, tetapi juga dari strategi mereka dalam mengarahkan percakapan hingga tercapai keputusan pembelian secara simulatif. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa kompetensi yang dibutuhkan saat ini tidak hanya terbatas pada kemampuan digital, tetapi juga keterampilan komunikasi dan strategi penjualan yang terintegrasi.

Pada kategori SMK Umum, Juara 1 diraih Qonita Sekar Sholihah dari SMK Negeri 1 Yogyakarta, Juara 2 Nuverta Fatimatu Zahra dari SMK Negeri 1 Wonosari, dan Juara 3 Arundhati Eka Nathan Destrariarta dari SMK Negeri 1 Depok. Sementara pada kategori SMK Swasta, Juara 1 diraih Aulia Febrianinda Permata Putri dari SMK YPKK 2 Sleman, Juara 2 Amella Quranul Iza dari SMK Muhammadiyah Semin, dan Juara 3 Ersita Widya Joeana Putri dari SMK Muhammadiyah 2 Bantul.

Penentuan juara dilakukan berdasarkan penilaian komprehensif dari dewan juri dengan mengacu pada berbagai indikator kompetensi. Ajang ini sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi kini bergerak semakin dekat dengan kebutuhan industri, terutama dalam menyiapkan siswa yang tidak hanya cakap di ruang digital, tetapi juga siap menghadapi tantangan penjualan nyata di lapangan.**