
Elly Susanto
Perupa Susentono dan nDaru Bektari berada di depan karya mereka dalam pameran “Metamorfosa” di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, Sabtu (28/3/2026).
BANDUNG, indoartnews.com – Sebuah perjalanan batin menemukan bentuknya dalam pameran bertajuk “Metamorfosa” yang resmi dibuka di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Sabtu, 28 Maret 2026. Pameran ini bukan sekadar pertemuan karya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dua dunia, antara kata dan rupa.
Pameran ini berangkat dari momen peluncuran buku berjudul "Metamorfosa" karya nDaru Bektari. Namun, dalam perjalanannya, acara tersebut berkembang menjadi pameran bersama dengan sang suami, Susentono, yang telah lebih dulu dikenal sebagai pelukis.
Susentono mengungkapkan, awalnya ia hanya ingin mengenalkan dunia lukis kepada istrinya yang berlatar belakang sebagai penulis. Namun, dari goresan awal yang dihasilkan, ia melihat sesuatu yang berbeda.
“Ketika melihat goresannya, saya merasa ini bukan goresan pemula. Ada ketegasan dan keyakinan di setiap garisnya,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan tersebut bukan semata soal teknik, melainkan karakter. Karena itu, ia tidak banyak memberikan arahan, melainkan lebih memilih mendampingi proses kreatif yang muncul secara alami.
Sementara itu, nDaru mengaku bahwa dunia seni lukis adalah hal yang sama sekali baru baginya. Ia baru mulai mengenal seni rupa sekitar satu setengah bulan terakhir.
“Sebelumnya saya bahkan tidak menyukai seni lukis. Tapi ketika masuk ke lingkungan ini, saya mencoba mengeksplorasi tanpa beban,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh karyanya dikerjakan secara mandiri, tanpa campur tangan teknis dari sang suami. Baginya, proses tersebut menjadi ruang kebebasan, tanpa tekanan untuk menghasilkan karya yang harus disukai atau dipahami orang lain.
“Saya tidak punya beban. Tidak peduli karya ini laku atau tidak. Ini murni eksplorasi,” katanya.
Pameran ini menampilkan puluhan karya, dengan dominasi karya nDaru Bektari yang mencapai sekitar 25 karya, sementara Susentono menghadirkan belasan karya lainnya.
Suasana pameran "metamorfosa" do Galeri SOS Bandung yang dipadati pengunjung serta momen pengamatan karya oleh pelukis dan penikmat seni.
Pameran ini juga menghadirkan narasi artistik yang memaknai metamorfosa sebagai proses perubahan batin yang terus berlangsung. Dari sesuatu yang semula asing, menjadi bahasa baru yang diungkapkan melalui warna dan garis, menghadirkan perjalanan kreatif yang tidak pernah benar-benar selesai.
Meski sama-sama menggunakan teknik batik simbut, karya keduanya memperlihatkan pendekatan visual yang berbeda. Perbedaan karakter tersebut terlihat jelas dalam ruang pamer.
Karya-karya nDaru cenderung ekspresif dengan penggunaan warna-warna cerah dan bentuk yang bebas. Elemen visual yang muncul terasa intuitif, seolah menjadi ruang bagi pengalaman dan imajinasi personal untuk dituangkan tanpa batas.
Sementara itu, karya Susentono, terutama yang menampilkan figur harimau memperlihatkan kematangan teknik dan kekuatan visual yang lebih terstruktur. Goresan yang tegas dan detail yang terkontrol menghadirkan kesan kuat, mencerminkan pengalaman panjangnya di dunia seni rupa.
Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan utama dalam pameran “Metamorfosa”. Di satu sisi hadir keberanian eksplorasi dari seorang seniman yang baru memulai perjalanan, sementara di sisi lain terdapat kedalaman dari seniman yang telah lama berkarya.
Sejumlah pelukis senior yang hadir pun memberikan apresiasi terhadap karya-karya yang ditampilkan. Pelukis Cipuk Setyawati menilai karya nDaru memiliki karakter yang menarik dan tidak biasa, serta memiliki potensi untuk terus berkembang.
Hal senada disampaikan oleh pelukis Yeyet Dewi Koryati yang menilai karya tersebut sudah mampu menyampaikan pesan secara komunikatif, meski dibuat dalam waktu belajar yang relatif singkat.
Bagi nDaru sendiri, perjalanan ini belum tentu menjadi tujuan utama hidupnya. Ia tetap menempatkan dunia menulis sebagai ruang utama, sementara seni lukis menjadi bagian dari proses pencarian diri.
“Saya lebih suka menulis. Ini mungkin hanya hobi, atau mungkin akan berlanjut. Saya belum tahu,” ujarnya.
Namun demikian, pameran ini menjadi titik penting dalam perjalanan keduanya. Metamorfosa bukan hanya tentang perubahan medium, tetapi juga tentang keberanian untuk melangkah ke wilayah baru tanpa kehilangan jati diri.**