Kamis, 14 Mei 2026 | 23:44 WIB

Masinis Wanita

Tiga Masinis Perempuan Daop 2 Bandung Buktikan Ketangguhan di Balik Kendali Kereta

foto

Tiga masinis perempuan Daop 2 Bandung, Dhea, Ajeng, dan Avy, yang menjalankan tugas di balik kendali kereta api serta menjadi simbol kesetaraan di dunia perkeretaapian. (Sumber: Instagram @kai121_)

BANDUNG, indoartnews.com – Profesi masinis selama ini identik dengan laki-laki. Namun di Daerah Operasi 2 Bandung, stigma tersebut mulai terpatahkan oleh kehadiran tiga perempuan tangguh yang kini berada di balik kendali lokomotif.

Mereka adalah Avy, Ajeng, dan Dhea, tiga masinis perempuan yang menjadi simbol perubahan di dunia perkeretaapian. Dari total 213 masinis di Daop 2 Bandung, kehadiran mereka memang masih minoritas, namun perannya sangat berarti.

Menjadi masinis bukanlah pekerjaan ringan. Di balik tuas kendali kereta dengan beban ratusan ton, terdapat tanggung jawab besar untuk mengantarkan penumpang dengan aman dan tepat waktu.

Menariknya, ketiganya tidak pernah membayangkan akan berkarier sebagai masinis sejak kecil. Avy, misalnya, mengaku sempat bercita-cita menjadi apoteker dan memiliki usaha apotek sendiri.

“Waktu kecil pengennya jadi apoteker, punya apotek sendiri. Gak pernah kebayang jadi masinis,” ungkap Avy.

Sementara Ajeng mengaku sempat bercita-cita menjadi dokter, namun kondisi finansial membuatnya harus mencari alternatif lain.

“Sebenarnya dari kecil pengen jadi dokter, tapi semakin ke sini rasanya berat di biaya,” ujarnya.

Berbeda dengan keduanya, Dhea mulai tertarik menjadi masinis setelah melihat peluang saat rekrutmen PT KAI.

“Awalnya lulus SMA pengen langsung kerja. Waktu itu ada rekrutmen KAI dan ada formasi masinis. Saya tertarik karena belum pernah lihat masinis perempuan sebelumnya,” kata Dhea.

Keputusan tersebut membuahkan hasil. Ia mengaku merasa sangat senang sekaligus terkejut saat dinyatakan lolos seleksi.

“Rasanya senang banget, shock, tapi juga excited,” tambahnya.

Bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki tentu bukan hal mudah. Ajeng mengaku sempat merasa canggung di awal kariernya.

“Awalnya malu dan kurang bisa mengikuti obrolan. Tapi lama-lama jadi merasa punya keluarga baru karena banyak berbagi ilmu dan pengalaman,” ujarnya.

Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam perjalanan mereka. Avy menuturkan bahwa awalnya sang ibu sempat ragu dengan pilihannya.

“Ibu sempat tidak setuju, karena perempuan jadi masinis dan jarang pulang. Tapi ayah mendukung. Alhamdulillah sekarang bisa membuktikan,” katanya.

Bagi Ajeng, profesi ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya.

“Saya bangga bisa jadi masinis, meskipun orang tua saya penjual pecel lele,” ungkapnya.

Di tengah padatnya angkutan Lebaran, ketiga masinis perempuan ini tetap menjalankan tugas seperti biasa. Mereka memastikan perjalanan kereta berjalan aman, nyaman, dan tepat waktu.

Kehadiran mereka tidak hanya menjadi simbol kesetaraan gender, tetapi juga bukti bahwa profesionalisme dan ketangguhan tidak ditentukan oleh jenis kelamin.

Di balik laju kereta yang melintas, ada semangat perempuan yang turut menggerakkan roda transportasi Indonesia.**