
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan sejumlah perwakilan negara menghadiri peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Minggu 19 April 2026.
BANDUNG, indoartnews.com – Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Minggu 19 April 2026, menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat solidaritas global yang pernah lahir dari Kota Bandung.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengatakan, KAA merupakan tonggak besar dalam sejarah diplomasi dunia. Menurutnya, konferensi tersebut tidak hanya menempatkan Indonesia dalam posisi penting di mata dunia, tetapi juga menjadikan Bandung sebagai pusat pertemuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
“Konferensi Asia Afrika ini adalah satu tonggak sejarah yang sangat besar dalam diplomasi kita dan menjadikan Bandung sebagai pusat pertemuan bangsa Asia dan Afrika,” kata Fadli Zon.
Fadli juga menyoroti pentingnya budaya sebagai kekuatan lunak atau soft power dalam membangun hubungan antarbangsa. Ia menilai, budaya mampu menjadi jembatan ketika perbedaan politik kerap memicu konflik dan perpecahan.
“Budaya adalah soft power, kekuatan yang mampu menjadi jembatan ketika politik seringkali menimbulkan konflik dan perpecahan,” ujarnya.
Menurut Fadli, kesamaan budaya di kawasan Asia dan Afrika dapat menjadi energi pemersatu yang melampaui berbagai perbedaan. Karena itu, semangat KAA harus terus dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah dan diplomasi budaya Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi sejarah KAA sebagai bagian dari warisan dunia. Fadli bahkan berencana membuka koleksi foto konferensi yang dimilikinya sebagai domain publik agar dapat diakses masyarakat luas dan generasi mendatang.
“Kesamaan budaya di Asia dan Afrika menjadi energi pemersatu yang melampaui perbedaan, sekaligus memperkuat solidaritas global,” ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyatakan, Pemerintah Kota Bandung berkomitmen mengangkat kembali kawasan Asia Afrika sebagai pusat sejarah dunia. Salah satu upaya yang tengah dilakukan yakni mengajukan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai kandidat warisan dunia UNESCO.
“Kami sedang mengajukan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai kawasan warisan dunia dengan target dalam empat tahun ke depan bisa masuk kandidat UNESCO,” ujar Farhan.
Farhan menilai, kawasan bersejarah tersebut tidak boleh dibiarkan sepi. Menurutnya, Jalan Asia Afrika harus terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan dan event agar memiliki daya tarik global yang kuat.
“Kawasan ini tidak boleh sepi, harus terus dihidupkan dengan berbagai event agar memiliki nilai tambah dan daya tarik global,” katanya.
Rangkaian peringatan KAA di Kota Bandung akan digelar mulai April hingga Juli 2026 dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kembali posisi Bandung sebagai kota bersejarah yang memiliki peran penting dalam diplomasi dunia.
Selain menyiapkan rangkaian kegiatan, Pemkot Bandung juga tengah menyiapkan penataan infrastruktur secara menyeluruh di kawasan Asia Afrika. Penataan itu mencakup perbaikan jalan, pembangunan trotoar ramah disabilitas, hingga revitalisasi gedung-gedung bersejarah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami juga menyiapkan penataan infrastruktur, mulai dari perbaikan jalan, trotoar ramah disabilitas hingga revitalisasi gedung bersejarah,” tuturnya.**