Sabtu, 18 April 2026 | 21:41 WIB

Konferensi Asia Afrika

Dari Gedung Merdeka Bandung, Semangat Asia Afrika Masih Menggema Setelah 71 Tahun

foto

Gedung Merdeka Bandung, salah satu bangunan bersejarah yang menjadi lokasi pelaksanaan Konferensi Asia Afrika 1955. Sumber foto: Instagram @kementerianpu

BANDUNG, indoartnews.com – Tanggal 18 April menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah Kota Bandung dan dunia. Pada tanggal yang sama 71 tahun lalu, Konferensi Asia Afrika resmi dibuka di Gedung Merdeka, Bandung.

Konferensi Asia Afrika yang berlangsung pada 18 hingga 24 April 1955 itu menjadi momentum bersejarah karena mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika dalam satu forum besar. Pertemuan tersebut diikuti 29 negara dan menjadi salah satu tonggak penting lahirnya semangat solidaritas bangsa-bangsa yang baru merdeka maupun masih berjuang melawan kolonialisme.

Berdasarkan keterangan Museum Konferensi Asia Afrika pada laman resmi mkaa.kemlu.go.id, konferensi tersebut melahirkan Dasasila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa terjajah dalam memperjuangkan kemerdekaan, sekaligus menjadi prinsip dasar dalam memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

Semangat KAA tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah diplomasi Indonesia, tetapi juga melekat kuat pada identitas Kota Bandung. Gedung Merdeka dan kawasan Jalan Asia Afrika hingga kini menjadi simbol bahwa Bandung pernah menjadi pusat perhatian dunia.

Pada masa itu, para pemimpin dan delegasi dari berbagai negara datang ke Bandung membawa harapan besar. Mereka membicarakan kemerdekaan, perdamaian, kesetaraan, kerja sama, dan penolakan terhadap kolonialisme serta rasisme.

Konferensi Asia Afrika juga menjadi bukti bahwa negara-negara Asia dan Afrika memiliki suara penting dalam percaturan global. Dari Bandung, muncul pesan bahwa bangsa-bangsa yang pernah mengalami penjajahan dapat berdiri bersama untuk memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil.

Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika setiap 18 April menjadi pengingat bahwa nilai-nilai yang lahir dari Bandung masih relevan hingga kini. Solidaritas, perdamaian, kesetaraan, dan kerja sama antarbangsa tetap menjadi pesan penting di tengah dinamika dunia modern.

Di Kota Bandung, jejak sejarah tersebut masih dapat dirasakan melalui keberadaan Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika. Museum ini menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, pelajar, wisatawan, hingga tamu dari luar negeri untuk mengenal lebih dekat sejarah diplomasi global yang pernah berlangsung di Bandung.

Menjelang peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika, kunjungan ke Museum KAA juga dilaporkan meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap sejarah KAA masih terjaga, terutama sebagai bagian dari pembelajaran mengenai peran Bandung dalam sejarah dunia.

Bagi warga Bandung, KAA bukan sekadar peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, KAA menjadi warisan nilai yang terus hidup dalam narasi kota, mulai dari ruang sejarah, pendidikan, pariwisata, hingga kebanggaan kolektif masyarakat.

Momentum 18 April juga menjadi pengingat bahwa Bandung memiliki posisi istimewa dalam sejarah hubungan antarbangsa. Kota ini pernah menjadi tempat lahirnya gagasan besar yang melampaui batas wilayah dan zaman.

Karena itu, peringatan Konferensi Asia Afrika bukan hanya seremoni tahunan. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk merawat ingatan sejarah sekaligus meneguhkan kembali semangat Bandung sebagai warisan dunia yang mengajak bangsa-bangsa hidup dalam perdamaian, kesetaraan, dan kerja sama.**