
Ilustrasi – Tangkapan layar dari Instagram/@iamzeammaze memperlihatkan momen evakuasi sejumlah menteri Nepal menggunakan helikopter militer pada 9 September 2025.
BANDUNG, indoartnews.com – Aksi dramatis terjadi di Kathmandu, Nepal, ketika sejumlah pejabat tinggi harus dievakuasi menggunakan helikopter militer pada Selasa, 9 September 2025. Langkah darurat itu diambil setelah rumah-rumah mereka diserbu massa di tengah gelombang protes besar.
Dilansir dari Reuters, Al Jazeera, dan Hindustan Times, evakuasi udara menjadi satu-satunya cara untuk mengamankan para pejabat serta keluarganya dari ancaman demonstran. Dalam rekaman yang beredar di media sosial, helikopter militer terlihat menurunkan keranjang penyelamat. Para menteri dan anggota keluarga mereka bergelantungan di udara untuk menyelamatkan diri.
Salah satunya adalah mantan Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba bersama istrinya yang juga menjabat Menteri Luar Negeri, Arzu Rana Deuba. Keduanya berhasil diangkat ke udara setelah kediamannya dikepung massa. Menteri Keuangan Bishnu Prasad Paudel juga dilaporkan harus dievakuasi dengan cara serupa. Menurut Al Jazeera, ia sempat dikejar demonstran sebelum akhirnya diselamatkan pasukan militer.
Beberapa pejabat lain pun dipindahkan ke lokasi aman, termasuk ke barak militer dan bandara, untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Militer Nepal memperkuat penjagaan di ibu kota menyusul aksi yang semakin meluas. “Evakuasi melalui udara dilakukan untuk memastikan keselamatan pejabat dan keluarga mereka,” tulis Reuters dalam laporannya.
Video evakuasi dramatis itu kemudian menyebar luas di berbagai media internasional setelah pertama kali diunggah oleh akun Instagram @iamzeammaze. Di balik peristiwa tersebut, protes besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Gen Z Movement menjadi pemicu utama.
Aksi ini bermula dari kebijakan pemerintah yang memblokir media sosial, namun berkembang menjadi gelombang penolakan terhadap korupsi, nepotisme, dan ketidakadilan ekonomi. Puncaknya, Perdana Menteri K. P. Sharma Oli mengumumkan pengunduran diri pada 9 September 2025 setelah rumah dinasnya turut diserbu massa dan situasi keamanan tak lagi terkendali.**