
Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menghadiri Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 di Yogyakarta. Sumber: YouTube Kraton Jogja.
YOGYAKARTA, indoartnews.com – Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 kembali digelar di Yogyakarta pada 11 hingga 12 April 2026 dengan mengangkat tema besar arsitektur, tata ruang, dan wilayah Kasultanan Yogyakarta. Forum ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga wadah penting untuk mempertemukan gagasan kebudayaan, sejarah, seni, dan lanskap Jawa dalam satu panggung diskusi.
Tahun ini, simposium menghadirkan sejumlah pembicara kunci dari dalam dan luar negeri yang memperkuat bobot pembahasan. Nama-nama yang tampil antara lain Prof. Koji Miyazaki dari Jepang, Dr. Verena Meyer dari Leiden University, Dr. Hélène Njoto Feillard dari EFEO, serta Prof. Ir. Bakti Setiawan dari Universitas Gadjah Mada. Kehadiran mereka memberi warna internasional pada pembacaan tentang ruang budaya Yogyakarta.
Pada hari pertama, forum dibuka dengan penampilan pembuka, remarks dari GKR Hayu, pembukaan oleh GKR Mangkubumi, serta sesi sejarah dan politik yang menempatkan Prof. Koji Miyazaki sebagai keynote speaker. Setelah itu, pembahasan berlanjut ke sesi seni, sastra, dan seni pertunjukan dengan keynote dari Dr. Verena Meyer yang menyoroti dimensi budaya dan ekspresi ruang dalam tradisi Jawa.
Hari kedua simposium berfokus pada arsitektur, pembaruan isu keraton, hingga tata ruang dan lanskap. Dalam sesi arsitektur, Dr. Hélène Njoto Feillard tampil sebagai keynote speaker, sementara pada sesi tata ruang dan lanskap, Prof. Bakti Setiawan hadir membahas perspektif perencanaan urban yang terkait dengan kawasan budaya Yogyakarta.
Dengan susunan pembicara seperti itu, simposium ini memperlihatkan bahwa pembahasan budaya Jawa tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Isu ruang, wilayah, dan filosofi kota justru dibaca sebagai pengetahuan hidup yang relevan dengan tantangan pelestarian, pendidikan, dan arah pembangunan kebudayaan hari ini.
Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 pun menegaskan posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat dialog budaya di Indonesia. Ketika para pembicara, akademisi, peneliti, dan pemerhati budaya bertemu dalam forum semacam ini, warisan Jawa tidak hanya dikenang, tetapi juga terus ditafsirkan ulang agar tetap bermakna bagi masa kini dan masa depan.**