Selasa, 11 Agustus 2020 | 22:11 WIB

Hikmah Covid -19, Kisah Kamal Djafar, Dari Seorang Pewara Acara Menjadi Tukang Sayur

foto

Administrator

Kamal Djafar

BANDUNG, indoartnews.com ~ Wabah Covid-19 telah meluluhlantakkan banyak impian dan cita-cita. Namun bukan berarti tidak ada yang bisa beradaptasi dengan keadaan dan mengambil pelajaran. 

Sejak Covid-19 merebak dan pemerintah menetapkan kebijakan untuk melarang kegiatan yang bersifat massal dan menciptakan mobilisasi massa, kehidupan Kamaludin Zafar, atau yang lebih tenar disapa Kamal Djafar, berubah total. 

Ia yang sehari-hari berprofesi sebagai pewara acara telah kehilangan mata pencaharian. Hampir semua kliennya membatalkan atau menunda acara hingga waktu yang belum ditentukan. Praktis, sumber pendapatannya menghilang.

Namun, ia tak kehabisan akal untuk tetap berdaya. Kendati 98% ladang penghasilan rutinnya lenyap, ia tak lantas putus asa. Ia memilih banting stir menjadi tukang sayur.

“Pekerjaan saya terdampak karena 98% event yang sudah masuk cancel dan postponed. Postponed-nya juga kita enggak tahu masuk di jadwal yang kosong atau sudah isi juga. Kalau masuk di jadwal isi berarti kan kita kehilangan satu pekerjaan,” ungkapnya membuka perbincangan dengan Humas Kota Bandung, Senin (4/5/2020).

Kamal sempat stres selama beberapa hari menghadapi kondisi itu. Beruntung, lingkungan pertemanannya membuatnya bisa berpikir lebih jernih dan solutif. Diskusi bersama dua orang temannya menjadi titik balik Kamal dalam menghadapi krisis yang menimpanya.

“Hari ini investasi itu bukan cuma dalam bentuk uang atau finansial. Yang saya rasakan, investasi pertemanan jauh lebih bisa bermanfaat di situasi seperti sekarang ini,” katanya.

Bertiga, ia akhirnya membentuk @kangsayurbdg, sebuah platform daring untuk berbelanja sayuran segar dari rumah. Warga yang kini sedang terhambat aktivitas di luar bisa tetap memesan sayur dan bahan masakan tanpa harus meninggalkan rumah. Kamal dan kawan-kawan akan membelikan pesanan pelanggan dari pasar induk dan akan dikirimkan ke pemesan keesokan harinya melalui ojek daring.

Selain berbelanja, pemesan juga sekaligus telah membantu para ojek daring untuk mendapatkan sembako dan masker, sebab Kamal menyisihkan sebagian keuntungan untuk membantu ojek yang mengantar pesanannya agar bisa segera pulang ke rumah.

“Karena pada dasarnya orang Indonesia cepat kalau soal tolong-menolong. Cuma kadang mereka mager (malas bergerak). Ya sudah kami bantu. Kami membelanjakan pesanan anda dan membantu untuk berbagi kepada yang membutuhkan,” ucapnya.

Sejak mulai mengudara pada 23 Maret 2020, Kamal mulai melayani berbagai pesanan berbelaja. Setiap hari, rata-rata ia melayani 20-35 pelanggan.

“Dengan @kangsayurbdg, berarti ada 20-35 orang yang terbantu menjaga jarak untuk tak keluar rumah sehingga bebas dari potensi penularan. Berarti ada 20-35 ojek online yang bisa terbantu kebutuhan sembakonya dan bisa langsung pulang ke rumah. Dan ada puluhan tukang sayur di pasar yang juga tetep berpenghasilan. Itu baru dari kangsayurbdg. Sekarang kan banyak yang kayak kami,” paparnya.

Meskipun pada mulanya Kamal harus berbelanja sendiri ke pasar, kini pekerjaannya bisa lebih mudah karena sudah dibantu karyawan. Pemesanan pun bisa lebih mudah dengan kehadiran website yang telah dibangunnya.

“Awal saya belanja sendiri dan harus membangun relasi ke dengan orang pasar. Saya dulu bukan orang yang sering ke pasar. Sekarang @kangsayurbdg sudah merambah ke web dan punya satu karyawan,” ungkapnya.

Selain itu, @kangsayurbdg juga menyisihkan penghasilan untuk membagikan lebih dari 4000 masker gratis kepada yang membutuhkan. Menurutnya, itu juga bisa berperan dalam menurunkan harga masker.

“Kita bagi masker kain sebanyak mungkin, tujuannya agar permintaan masker medis bisa berkurang, jadi harga masker bisa turun sehingga tenaga medis yang berada di garda terdepan itu bisa tetap mendapatkan masker dengan mudah, gitu kan konsepnya,” beber pria 27 tahun itu.

Berusaha Berbuat Benar Wabah Covid-19 ini jelas telah memberi Kamal banyak pelajaran. Salah satunya adalah soal menjadi manusia yang berdaya dan beradab. Ketika banyak orang yang berteriak meminta bantuan, Kamal yang notabene juga kehilangan mata pencaharian, memilih untuk menjadi manusia yang tetap bermanfaat.

“Semua orang sekarang sedang jatuh, tapi saya memilih bagaimana jatuh dengan elegan,” selorohnya sedikit berkelakar.

“Tidak ada yang siap dengan keadaan ini. Bahkan pemerintah pun tidak siap. Saya tahu perencanaan ekonomi hancur dalam sebulan karena Covid-19. Tapi kita tetap bisa bertahan hidup asal mau menurunkan ego dan mulai mencari solusi dari apa yang kita punya,” tuturnya.

Melihat kondisi banyak orang, Kamal beripikir, hari ini bukan saatnya orang mencari keuntungan, melainkan bagaimana untuk bertahan hidup. Ia harus bisa bertahan hidup hari ini, baru mempersiapkan kehidupan setelah wabah ini mereda.

Ia juga paham bahwa kondisi setiap orang berbeda, namun menyerah pada keadaan, menurutnya, bukan pilihan yang seharusnya.

“Tidak salah untuk meminta bantuan dari pemerintah, tidak salah untuk mengeluh karena semua orang juga terdampak. Enggak ada yang enggak sakit hari ini. Tapi solusi yang kita berikan, apa yang kita lakukan, kepada diri kita sendiri, kepada lingkungan, itu menunjukkan sudah di level mana kita hidup,” katanya.

Meskipun berada dalam kondusi yang sulit, ia tak ingin kehilangan jati diri. Ia tetap berusaha dengan kemampuannya untuk tetap berdiri di kakinya sendiri.

“Yang saya pikirkan adalah bagaimana agar bisa bertahan hidup biar bisa bertemu dengan keluarga. Saya enggak teriak minta bantuan, ah, malu. Buat saya, dalam keadaan seperti ini jangan sampai kita kehilangan jati diri, dan jangan sampai mengubah apa yang telah dibentuk sebelumnya. Membangun kredibilitas kan tidak mudah,” tegasnya. **