Selasa, 10 Maret 2026 | 22:50 WIB

Berpulangnya Sang Ikon Raminten: Hamzah Sulaeman Tutup Usia

foto

YOGYAKARTA, indoartnews.com - Yogyakarta kehilangan salah satu sosok ikoniknya. Hamzah Sulaeman, pendiri The House of Raminten dan Hamzah Batik, meninggal dunia pada Rabu malam, 23 April 2025 pukul 22.34 WIB di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Kabar duka ini menyebar cepat melalui media sosial dan disambut ungkapan belasungkawa dari berbagai kalangan.

Hamzah Sulaeman, atau yang akrab disapa "Kanjeng", dikenal luas sebagai pencipta karakter Raminten yang populer melalui tayangan ketoprak humor di televisi lokal Jogja TV. Karakter perempuan Jawa yang anggun dengan kebaya, jarik, dan bahasa yang santun ini tidak hanya menjadi ikon hiburan, tetapi juga melekat erat dalam dua usahanya yang kini menjadi destinasi budaya dan wisata kuliner di Yogyakarta.

The House of Raminten, restoran yang ia dirikan pada 26 Desember 2008, membawa nuansa budaya Jawa ke dalam pengalaman bersantap. Dengan sajian tradisional seperti nasi kucing, jamu, hingga menu khas lainnya, restoran ini menjadi tempat yang sarat akan nilai kearifan lokal. Sementara itu, Hamzah Batik, yang dulu dikenal sebagai Mirota Batik, menjadi pusat oleh-oleh dan batik yang ramai dikunjungi wisatawan di kawasan Malioboro.

Hamzah Sulaeman juga dikenal sebagai Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamidjinindyo. Ia merupakan anak bungsu dari pendiri grup usaha Mirota dan telah mengabdikan hidupnya untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Jawa dalam bentuk yang segar dan relevan bagi generasi masa kini.

Jenazah beliau disemayamkan di Rumah Duka PUKJ Kasihan, Bantul, dan rencananya akan dikremasi pada Sabtu, 26 April 2025. Dalam unggahan Instagram resmi @houseoframinten dan @hamzahbatikofficial, tertulis pesan mengharukan: “Selamat jalan Kanjeng… Engkau bukan hanya pemimpin, tapi juga guru dan panutan kami".

Kepergian Hamzah Sulaeman meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Yogyakarta dan mereka yang pernah merasakan hangatnya nilai budaya dalam karya dan pelayanannya. Namun warisan semangat dan dedikasi beliau akan terus hidup melalui setiap sudut restoran, gerai batik, dan kenangan yang melekat di hati banyak orang.**