Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:13 WIB

Wisata Kopi Luwak

Menikmati Kopi Luwak di Tegallalang, Ada Cerita di Balik Secangkir Kopi Intan Sari Agro

foto

Wisatawan menikmati sajian kopi sambil mendapat penjelasan mengenai ragam produk lokal di Intan Sari Agro, Tegalalang, Gianyar, Bali.

TEGALALANG, GIANYAR, indoartnews.com – Menikmati kopi di tengah suasana alam selalu menghadirkan pengalaman berbeda. Hal itu terasa saat berkunjung ke Intan Sari Agro, sebuah tempat ngopi bernuansa alam di Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, yang menjadikan kopi luwak sebagai salah satu ikon utamanya.

Bukan Sekadar Tempat Ngopi

Tempat ini bukan sekadar menyajikan kopi untuk diminum. Setiap tamu yang datang terlebih dahulu diajak mengenal proses di balik secangkir kopi, mulai dari pengenalan tanaman, bahan tradisional, hingga proses pengolahan kopi luwak yang selama ini dikenal memiliki cerita panjang sebelum sampai ke meja pengunjung.

Salah satu staf Intan Sari Agro, Kadek Wiyandari, menjelaskan bahwa tempat tersebut mulai kembali beroperasi pada 2023. Sebelumnya, kawasan ini sudah pernah berjalan sekitar 2018 dengan konsep tempat ngopi, namun sempat berhenti selama pandemi Covid-19.

“Dibuka lagi di tahun 2023. Konsepnya kurang lebih masih sama, tempat ngopi dengan suasana alam,” ujar Kadek saat diwawancarai, Jumat, 8 April 2026.

Menurut Kadek, area Intan Sari Agro cukup luas. Dari total lahan sekitar 66 hektare, area yang digunakan untuk aktivitas wisata dan kunjungan tamu sekitar 30 hektare. Pengunjung dapat menikmati suasana hijau, tempat duduk berbahan kayu, serta pemandangan alam yang masih natural.

Kopi Luwak Jadi Daya Tarik

Daya tarik utama tempat ini adalah kopi luwak. Di area kunjungan, terdapat empat ekor luwak yang menjadi bagian dari edukasi bagi tamu. Namun, Kadek menegaskan bahwa luwak yang benar-benar menghasilkan biji kopi berada di tempat khusus, bukan di area pajangan atau show area.

“Di sini kebetulan ada empat ekor, semuanya hewan peliharaan kami. Tapi untuk produksi, tempatnya berbeda. Kami punya kebun kopi di Kintamani dan itu private milik perusahaan,” jelasnya.

Berbagai sampel kopi dan teh disajikan untuk pengunjung di Intan Sari Agro, Tegalalang, Gianyar, Bali, sebagai bentuk apresiasi bagi pelanggan yang memesan kopi.

Kadek menuturkan, proses produksi kopi luwak tidak bisa disamakan dengan kopi reguler. Salah satu alasan harga kopi luwak lebih tinggi adalah prosesnya yang unik dan tidak terjadi setiap hari. Luwak juga diberi waktu istirahat agar proses produksi tidak dipaksakan.

“Kalau hari ini produksi, mungkin dua atau tiga hari kami kasih istirahat untuk luwaknya. Jadi hasil produksinya juga tidak selalu stabil. Bisa naik, bisa turun,” katanya.

Selain kopi luwak dan kopi Bali, Intan Sari Agro juga menawarkan berbagai varian lain, seperti kopi jahe, kopi cendana, vanilla coffee, coconut coffee, ginseng coffee, avocado coffee, durian coffee, Bali mochachino, Bali cocoa, serta aneka teh herbal seperti ginger tea, lemon tea, lemongrass tea, rosella tea, mangosteen tea, herbal tea, hingga butterfly pea tea.

Berbagai sampel kopi dan teh disajikan untuk pengunjung di Intan Sari Agro, Tegalalang, Gianyar, Bali, sebagai bentuk apresiasi bagi pelanggan yang memesan kopi luwak.

Ada Sampel Minuman untuk Pengunjung

Hal menarik lainnya, setiap pengunjung yang memesan kopi luwak akan mendapatkan compliment berupa sampel berbagai varian kopi dan teh yang tersedia di Intan Sari Agro. Sampel itu disajikan dalam gelas-gelas kecil di atas nampan kayu, sehingga pengunjung bisa mencoba beragam rasa dalam satu waktu.

Menurut Kadek, pemberian sampel tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada pengunjung yang sudah memesan produk spesial mereka, yakni kopi luwak. Selain itu, cara tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dibangun kepada tamu.

“Ini salah satu compliment. Rata-rata mereka sudah order produk spesial kami, kopi luwak. Jadi ini bentuk apresiasi kami kepada customer,” kata Kadek.

Bagi pengunjung, sajian sampel tersebut kerap menjadi kejutan tersendiri. Banyak tamu yang awalnya hanya memesan kopi luwak, tetapi kemudian bisa ikut mencicipi berbagai varian rasa lain, mulai dari kopi bercita rasa rempah hingga teh herbal.

Ada Cerita Petani di Balik Secangkir Kopi

Bagi Kadek, tur singkat sebelum minum kopi bukan hanya strategi pemasaran. Lebih dari itu, Intan Sari Agro ingin membagikan nilai kepada pengunjung bahwa setiap produk memiliki proses panjang dan melibatkan banyak orang.

“Kami ingin berbagi nilai bahwa apa pun yang kita lakukan selalu ada proses. Bahkan untuk secangkir kopi, ada petani yang merawat tanaman, pekerja yang membantu proses di kebun, sampai yang menyiapkan produk hingga sampai ke tamu,” ujarnya.

Dari tempat ini, secangkir kopi tidak hanya hadir sebagai minuman. Ada cerita tentang petani, proses alam, pekerja, luwak, hingga cara sebuah tempat membangun pengalaman bagi tamu. Intan Sari Agro seolah mengajak pengunjung untuk tidak hanya menikmati rasa kopi, tetapi juga menghargai perjalanan panjang di baliknya.

Turis Asing Antusias Datang

Mayoritas pengunjung Intan Sari Agro berasal dari luar negeri. Menurut Kadek, wisatawan yang datang cukup beragam, mulai dari Australia, Eropa seperti Prancis dan Jerman, India, Amerika, hingga negara-negara Asia. Sementara wisatawan lokal umumnya berasal dari Jakarta, Bandung, dan beberapa daerah lain.

Para turis, kata Kadek, biasanya sangat antusias sejak awal kedatangan. Banyak dari mereka sudah mendengar tentang kopi luwak, tetapi tetap penasaran ketika melihat langsung prosesnya dan mencicipi rasanya.

“Mereka sangat excited. Banyak yang bilang ini pertama kali mencoba, kopinya enak dan berbeda dari kopi di negara mereka,” ucapnya.

Selain pengalaman rasa, suasana tempat juga menjadi kekuatan Intan Sari Agro. Area yang masih natural membuat pengunjung bisa menikmati kopi sambil memandang lanskap hijau. Nuansanya terasa tenang, jauh dari kesan kafe modern yang terlalu banyak dimodifikasi.

“Menariknya lebih ke alamnya. Di bawah itu semuanya masih natural, lebih seperti green forest atau rainforest,” kata Kadek.**