Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:39 WIB

Firdaus Alamhudi

Dari Limbah Bulu Ayam, Karya Firdaus Alamhudi Tembus Panggung Dunia

foto

Pelukis bulu Firdaus Alamhudi (kanan) menyerahkan salah satu karya lukisannya kepada tokoh nasional dalam sebuah kesempatan. Karya tersebut merupakan lukisan berbahan bulu ayam yang menjadi ciri khasnya. (Sumber: Instagram @indonesiainphnompen)

BANDUNG, indoartnews.com – Di tangan Firdaus Alamhudi, limbah bulu ayam berubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Bukan sekadar lukisan, setiap karyanya membawa cerita tentang ketekunan, identitas, dan perjalanan panjang seorang seniman yang konsisten menempuh jalur berbeda.

Firdaus mulai menekuni seni lukis bulu sejak tahun 1975. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan teknik pengolahan bulu ayam yang diawetkan, kemudian disusun seperti mosaik sebelum dilapisi resin agar kuat dan tahan lama.

Lukisan bulu yang ia kembangkan bukan hanya unik, tetapi juga memiliki identitas kuat sebagai karya seni yang lahir dan berkembang di Indonesia. Medium yang digunakan berasal dari limbah, namun mampu menghadirkan detail visual yang tidak kalah dengan lukisan berbahan cat minyak maupun akrilik.

Perjalanan Firdaus tidak berhenti di dalam negeri. Ia telah membawa karya-karyanya ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Di tingkat internasional, karyanya pernah dipamerkan di Iran, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Kamboja.

Pengalaman tersebut menjadikan Firdaus sebagai salah satu pelukis yang konsisten memperkenalkan seni lukis bulu ke panggung dunia. Ia juga dikenal sebagai sosok yang terus mempertahankan medium ini di tengah perkembangan seni rupa modern.

Menariknya, meski telah berkeliling ke berbagai negara, Firdaus justru baru pertama kali menggelar pameran di Kota Bandung. Momen ini bertepatan dengan rangkaian HUT ke-80 Kodam III/Siliwangi melalui pameran bertema Siliwangi untuk Indonesiaku.

Bagi Firdaus, pameran di Bandung memiliki makna emosional tersendiri. Kota yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya ini menjadi ruang baru bagi karyanya untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat Pasundan.

Karya-karya yang ia tampilkan mengangkat beragam tema, mulai dari tokoh nasional, perjuangan, alutsista TNI, kaligrafi, hingga lingkungan hidup. Salah satu yang mencuri perhatian adalah lukisan Maung Siliwangi dengan latar alam khas Jawa Barat.

Melalui karya-karyanya, Firdaus tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menyisipkan pesan tentang nasionalisme dan kepedulian lingkungan. Dari limbah sederhana, ia membuktikan bahwa seni dapat menjadi jembatan antara kreativitas, sejarah dan nilai kemanusiaan.**