Selasa, 21 September 2021 | 18:52 WIB

Dalam Kondisi PPKM Darurat Tidak Ada Istilah Menyerah

foto

Elly Susanto

Isom Zainudin (kiri) bersama pegawainya sedang meracik kopi pesanan dari salah satu pelanggannya yang dipesan lewat online , Selasa (13/7).

PANGALENGAN, indoartnews.com ~ Warga Pangalengan Kab. Bandung dalam masa pandemi Covid-19, khususnya dalam situasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sebagian besar mematuhi protokol kesehatan (Prokes), salah satunya dengan memakai masker.

Suasana sepi sangat dirasakan warga pangalengan yang biasanya selalu ramai dengan banyaknya pengunjung dari kota Bandung, Jakarta dan tempat lainnya, sebab Pangalengan merupakan tempat wisata alam.

Situasi dan suasana sepi seperti ini juga dirasakan oleh pengusaha cafe Nagoya Coffee di kampung Babakan Alun- Alun Desa/Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Sebelum pandemi Covid-19, cafe ini selalu penuh pelanggannya penggemar kopi. Sambil minum kopi para pelanggannya yang didominasi anak-anak muda bercengkrama penuh kekerabatan dan kekeluargaan.

Kondisi yang dialami khususnya pada masa PPKM Darurat ini diiyakan oleh pemilik cafe Nagoya Coffee, Isom Zainudin, saat ngobrol dengan indoartnews.com, Selasa (13/7-2021).

Menurut pengusaha cafe Nagoya Coffee, Isom Zainudin, walau kondisi PPKM Darurat usahanya tetap berjalan dengan strategi lain dan patuh Prokes.

Isom menjelaskan, walau ruangan usaha cafenya tidak begitu luas tetapi cukup nyaman untuk kawula muda kumpul-kumpul sambil minum kopi.

Ia menyatakan, cafenya sudah 2 tahun berjalan dan usahanya menggunakan produk usaha para petani kopi di Pangalengan. "Kita bantu petani dan mereka pun membantu kita," tegas Isom. 

Sebelum pandemi, cafenya, kata Isom, lumayan ramai setiap harinya. Cafe dibuka mulai pukul 08.00 sampai pukul 24.00 WIB. Di masa PPKM cafe ditutup pukul 20.00 WIB. "Sejak pandemi Covid-19, pengunjung berkurang jauh dan omzet pun turun 40 - 60%. 

Walau dalam kondisi PPKM Darurat, bagi Isom tidak ada istilah menyerah, namun ia mengubah strategi, pembeli take away atau bawa pulang. Strategi lain dengan delivery service atau layanan antar kian digencarkan.

"Pegawai saya, kata Isom ada yang siap mengantar pesanan. Selain itu juga dengan penjualan lewat online untuk kopi kemasan yang bubuk mau pun yang bijian. Cukup banyak yang minta dikirim. Peminatnya dari Jakarta, Bogor, Cianjur, Majalengka, Cirebon dan yang paling jauh permintaan dari Batam Yang paling sering minta dikirim, dari Jakarta.

Isom yang tidak pernah menyerah dengan situasi dan kondisi ini menumbuhkan hasrat berinovasi dengan menciptakan varian baru mau pun desain kotak kemasan. "Cafe Nagoya Coffee tetap buka dengan tetap mematuhi prokes sebagaimana ditetapkan Pemerintah," pungkas Isom.

Lendra indrawan, merupakan pelanggan setia Cafe Nagoya. Ia mengemukakan, sebelum pandemi jika malam tiba ia bersama teman-temannya biasa ngumpul, nongkrong ngopi sambil sharing, berbagi ceritera sama teman-teman. "Sekarang tidak ngumpul-ngumpul lagi karena teman-teman juga sudah ngerti. Kami mematuhi PPKM Darurat," ucapnya.

Sementara, Sersan Mayor Ajang salah seorang Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Kec. Pangalengan yang saat itu sedang melaksanakan tugas mengontrol situasi di wilayahnya, menerangkan, di masa PPKM Darurat Mall dan tempat pariwisata ditutup sementara.

"Sesuai aturan, kegiatan seperti di mall, kedai dan pariwisata ditutup sementara. "Jadi jika ada kerumunan segera dibubarkan sesuai peraturan dari Pusat. Kami pun menghargai kegiatan di masyarakat dan upaya niaga juga harus mematuhi prokes," ucap Serma Ajang.

Namun demikian, katanya, yang melanggar prokes memang masih ada walau jumlahnya tidak banyak dan itu tugas Satgas memberi pemahaman untuk mematuhi prokes. **

Editor : H. Eddy D