Kamis, 5 Agustus 2021 | 09:21 WIB

Ketatnya Protokol Kesehatan di PT Safilindo Permata, Banjaran

foto

Elly Susanto

Karyawan di PT Safilindo Permata saat melakukan aktivitasnya selalu mematuhi prokes 3 M.

BANJARAN, indoartnews.com ~ Eko Susilo, Kepala Bagian Produksi dan Divisi Covid-19 PT Safilindo Permata di Banjaran, Kab. Bandung, menyatakan, di perusahaannya begitu ketat memelihara protokol kesehatan (Prokes) terutama pasca Lebaran karena banyak karyawannya yang mudik dan masuk kerja sakit, tetapi hak-hak mereka tetap diberikan.

Pernyataan Eko ini dikemukakan kepada awak media yang mewawancarainya, Sabtu (5/6-2021) didampingi Kabag Produksi dan Koordinator Gugus Tugas Covid -19 PT. Safilindo permata di ruang kerjanya usai penebaran cairan Eco Enzyme bersama Satgas Citarum Harum Sektor 21 di sungai Cisangkuy Banjaran, Kab. Bandung. 

Ia menegaskan, kepada segenap karyawan terutama yang baru mudik pasca Lebaran saat masuk kerja perusahaan makin ketat melaksanakan prokes seperti tetap menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan.

"Pengetatan itu dilakukan demi kesehatan dan keselamatan segenap karyawan. Demikian pula waktu kerja seminggu yang awalnya 6 hari tetapi saat pandemi Covid-19 cuma 3 atau 4 hari saja karena kondisi perusahaan menurun.

Sebab, kata Eko, ia mendengar pasca Lebaran, 80% karyawan di perusahaan tetangganya terpapar Covid-19 dan kebanyakan mereka yang pulang mudik.

Berdasar pengalaman itu, Divisi Covid-19 di perusahaannya, kata Eko, terus berkolaborasi dengan Satgas Covid-19 Desa sebagai bentuk kehati-hatian bersama.

"Kebetulan salah seorang karyawan di perusahaan tetangga itu suaminya kerja di sini, jadi kita khawatir. Ada 3 karyawan kami yang terpapar. Mereka diisolasi mandiri. Ketiganya diliburkan tetapi hak-haknya tetap kita berikan," ucap Eko pula.

Ia pun memberi gambaran di perusahaan ini selalu memantau kesehatannya. Jika kelihatan ada karyawan sakit segera dipanggil dan disarankan untuk periksa ke Puskesmas. "Kemaren ada salah seorang karyawan yang kelihatan murung kita panggil ternyata sakit. Kita suruh ke Puskesmas untuk diantigen, ternyata hasilnya negatif," ungkap Eko.

Walau begitu, Satgas Covid perusahaan bekerja sama dengan Gugus Tugas Desa dilakukan lagi tes PCR untuk mengantisipasi penyebaran di lingkungan perusahaan.

Jika hasil PCR belum keluar mereka tetap dalam isolasi mandiri dan biaya PCR tetap menjadi tanggungan perusahaan karena ini merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan.

Demikian pula bentuk perhatian lain perusahaan selain tetap melaksanakan prokes juga kepada karyawan dibagikan masker dan diberi vitamin seminggu sekali.

Namun perusahaan juga tetap bertindak rada keras setelah selalu diperingatkan tentang prokes ternyata ada karyawan yang tidak memakai masker didenda Rp. 100.000. "Ini untuk pelajaran saja untuk tetap mematuhi prokes," tegas Eko.**

Editor : H. Eddy D