Sabtu, 7 Desember 2019 | 00:57 WIB

Sektor 21 Cor Lubang IPAL PT Pulo Mas Texindo

foto

Ken Zanindha

BANDUNG, indoartnews.com ~ Satgas Sektor 21 Subsektor 13 Cimahi Selatan bersama Subsektor 11 Lagadar Senin (21/10) menutup lubang pembuangan limbah cair PT. Pulau Mas Texindo di jalan raya Lagadar Margaasih Kab. Bandung.

Menurut Dansektor 21 Kol. Inf. Yusep Sudrajat tindakan penutupan lubang pembuang limbah cair pabrik itu dilakukan berdasarkan temuan Satgas Sektor 21 karena limbah cair kotor, keruh kekuning-kuningan itu telah mencemari aliran air sungai Babakan Mencut.

Dikatakannya, sungai itu juga berada di wilayah Subsektor 11 Lagadar. Karena itu, kedua Subsektor, 11 dan 13 bersama-sama pada saat patroli menemukan aliran air sungai itu keruh, kotor dan kekuning- kuningan dan ternyata akibat pabrik itu mengeluarkan limbah kotor itu ke sungai Babakan Mencut.

 

Kedua Satgas itu segera menelusuri datangnya limbah kotor itu dan ternyata dari pabrik PT. Pulau Mas Texindo saat itu pula atas perintah Dansektor 21, Satgas menutup lubang pembuangan limbah pabrik dengan terlebih dahulu memberitahu pemilik pabrik, Subrata.

 

Kedua Subsektor itu meyakinkan kepada pemilik pabrik bahwa kondisi IPAL pabrik harus segera diperbaiki. Sementara di PT Pulo Mas ikan hidup bukan di outlet namun di akuarium yang tidak teraliri outfall pabrik. 

 

Padahal menurut parameter Satgas, ikan bisa hidup di outlet yang dialiri air pembuangan yang bersih. "Tentu saja ikan di akuarium tanpa dialiri air pembuangan yang kotor bisa hidup," tegas Satgas.

 

Sebelum lubang pembuangan limbah dicor, Satgas Peltu Ayi Suryana dan Serka Lilik terlebih dahulu menjelaskan perihal tindakan pengecoran itu di hadapan pemilik pabrik, 4 perwakilan serikat pekerja di pabrik itu beserta awak media.

 

Managemen Pabrik PT Pulo Mas, Subrata saat ditemui awak media, mengatakan bahwa air yang keluar dari lubang pembuangan bukanlah air limbah tetapi air dari bekas pembersihan gorong-gorong sehingga air yang keluar berwarna. “Kami melakukan bersih-bersih dipabrik rutin dilakukan satu kali dalam satu minggu. Air yang keluar menjadi agak kotor dan berwarna karena bercampur lumut dan itu tidak berbahaya“, pungkas Subrata.

 

Penutupan saluran limbah tetap dilakukan atas dasar temuan air limbah kotor dari perusahaan tersebut saat Satgas patroli sungai.

 

Menurut Kolonel Yusep, pengecoran ini bersifat sementara. Namun itu tergantung kepada usaha yang dilakukan manajemen pabrik. Semakin cepat perbaikan, cepat pula coran dibuka lagi.**