Kamis, 14 Mei 2026 | 22:54 WIB

BAZNAS Jabar

BAZNAS Jabar Siagakan Layanan Mudik di Cimahi dan Nagreg, Pemudik Disiapkan Fasilitas Istirahat dan Kesehatan

foto

BAZNAS Provinsi Jawa Barat melepas tim Layanan Aktif untuk Pos Siaga Mudik di wilayah Cimahi dan Nagreg sebagai bentuk kesiapsiagaan pelayanan bagi para pemudik Lebaran 2026.

BANDUNG, indoartnews.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Jawa Barat akan datang lebih awal dan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Kepala BMKG Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menyebutkan bahwa awal musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan terjadi secara bertahap mulai Maret hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.

“Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13 hingga 15 dasarian, bahkan cenderung lebih panjang dari normal,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

Berdasarkan data BMKG, sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Sementara itu, sekitar 66 persen wilayah diprediksi mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Wilayah yang lebih dahulu memasuki musim kemarau pada Maret 2026 meliputi sebagian kecil wilayah Bekasi dan Karawang. Selanjutnya pada April 2026, musim kemarau diperkirakan meluas ke wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, serta sebagian Cirebon.

Pada periode Mei hingga Juni 2026, musim kemarau diprediksi akan meluas ke sebagian besar wilayah Jawa Barat, termasuk Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis hingga Banjar.

BMKG juga mencatat sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan normal. Selain itu, sekitar 81 persen wilayah diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, di antaranya kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan pada sistem irigasi pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini, seperti mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air serta menyesuaikan kalender tanam di sektor pertanian.

Informasi prediksi musim ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan sektor pertanian, pengelolaan air, serta mitigasi bencana di wilayah Jawa Barat menjelang musim kemarau 2026.**