
Dr. Eki Baihaki (kanan) berbincang dengan Kepala Seksi Data dan Statistik Diskominfo Kota Cimahi, Azis Sumaryono (kiri), usai kegiatan verifikasi survei pengelolaan sampah di Cipageran. Kolaborasi warga, tokoh masyarakat, dan pemerintah diharapkan mendukung target Zero TPA di Cimahi, Senin(11/7/2025).
CIMAHI, indoartnews.com — Ketua Forum Puri Cipageran, Sekretaris ICMI Orda Cimahi, sekaligus Dosen Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas), Dr. Eki Baihaki, menilai kegiatan survei perilaku pengelolaan sampah di Cipageran mendukung Gerakan Inovasi Sampah Mandiri (GISMA) yang kini berkembang di beberapa RW. Menurutnya, data hasil survei ini sangat penting sebagai dasar perumusan kebijakan menuju Zero TPA di Kota Cimahi.
“Program GISMA ini mirip sensus. Lewat kegiatan ini, kita punya data perilaku warga dalam memilah dan mengolah sampah. Data ini sangat penting, apalagi Cimahi punya target Zero TPA yang diharapkan tercapai dalam dua tahun ke depan,” kata Eki, Senin (11/7/2025).
Eki juga menjelaskan bahwa GISMA beririsan dengan Kampung Cendikia ICMI Kota Cimahi yang telah diterapkan di tiga RW di Puri Cipageran, yakni RW 24, RW 25, dan RW 27. “Lewat program ini, RW dan mahasiswa diterjunkan ke rumah warga. Mereka tidak hanya mendata, tetapi juga mengedukasi. Misalnya, ketika mendata, mereka sampaikan pesan inspiratif: kalau Bapak Ibu mau memilah sampah, itu artinya sudah memuliakan petugas sampah. Sampah pun tidak tercampur, nilai ekonominya lebih tinggi,” ujarnya.
Menurut Eki, kebijakan Pemkot Cimahi melalui DLH yang hanya akan mengangkut sampah jika sudah dipilah terbukti mendorong kebiasaan positif di masyarakat. “Kesadaran memilah ini relatif sudah terbentuk, meski tantangan selanjutnya adalah mendorong warga mau mengolah sampah, misalnya dengan kompos atau biopori,” tambahnya.
Sebagai contoh, Eki membagikan praktik sederhana di rumahnya. “Sampah organik dikompos, sisa hewaninya masuk ke biopori, botol plastik disedekahkan ke pemulung. Sampah yang benar-benar tidak termanfaatkan tinggal sedikit, sekitar 10–20 persen. Sisanya dibakar di insinerator agar tuntas di tempat. Jadi target Zero TPA sangat mungkin tercapai,” jelasnya.
Di akhir, Eki mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas pihak. “Solusi penanganan sampah harus integratif dan kolaboratif. Jangan ada ego sektoral. Semua pihak harus dilibatkan: komunitas, warga, RW, RT, tokoh masyarakat, hingga kelurahan. Hanya dengan gotong royong Cimahi bisa mewujudkan Zero TPA,” pungkasnya.**