Sabtu, 15 Juni 2024 | 10:34 WIB
Slot Gacor Slot88 Slot Online https://wbcampa.org

Wartawan Alami Pengusiran, Disdik Purwakarta Panggil Oknum Guru

foto

PURWAKARTA, indoartnews.com ~ Seorang guru wanita berinisial R di SDN 1 Nagritengah, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, meminta maaf kepada empat wartawan yang mengalami tindakan tidak menyenangkan dari dirinya. Permintaan maaf tersebut disampaikan di Kantor Dinas Pendidikan Purwakarta pada Selasa (21/5/2024), didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan, Purwanto

Perwakilan wartawan, Cep Jenar, yang hadir dalam pertemuan tersebut, mengatakan, secara pribadi mereka menerima permintaan maaf dari oknum guru tersebut. Namun, mereka menegaskan bahwa proses hukum tetap harus berjalan sesuai dengan Undang-Undang Pers Nomor 40.

"Kami meminta agar oknum guru tersebut dipindahkan agar murid-murid yang mendapat kata-kata tidak pantas dari oknum guru itu dapat belajar dengan baik dan terlindungi," jelas Cep Jenar.@ Insiden tersebut terjadi pada Rabu (15/5/2024), ketika empat wartawan yang bekerja di media online, cetak dan televisi datang ke SDN 1 Nagritengah untuk memenuhi undangan Kepala Sekolah. Mereka malah mengalami pengusiran dan mendapat perkataan kurang pantas dari oknum guru R. Keempat wartawan tersebut adalah Yadi, Adam, Deni dan Hidayat.

Menurut laporan, guru tersebut tiba-tiba berteriak dari dalam ruangan, melontarkan kata-kata kurang pantas dan merendahkan profesi wartawan dengan menyebut mereka sebagai "tukang memeras".

"Dia keluar marah-marah menuduh kedatangan kami ke sekolah bertujuan untuk membuat pemberitaan miring dan berujung pemerasan. Padahal, kami jelas datang atas undangan dari kepala sekolah," kata Yadi.

Lebih buruk lagi, oknum guru tersebut meminta agar salah satu siswa yang kebetulan adalah anak dari salah satu wartawan dipindahkan dari sekolah tersebut karena dianggap sebagai penyebab banyaknya wartawan yang datang ke tempat dia mengajar.

"Perkataan seperti itu tidak pantas disampaikan oleh seorang guru. Yang berhak memindahkan siswa adalah walinya, bukan guru. Jujur saya miris mendengar hal itu," tambah Yadi.

Kepala SDN 1 Nagritengah, Abad Badrudin, mengemukakan, insiden tersebut adalah kesalahpahaman. Ia mengaku saat kejadian dirinya berhalangan hadir dan menugaskan guru R sebagai narasumber kegiatan yang akan diliput oleh para wartawan.

Kepala sekolah dan oknum guru tersebut telah dipanggil oleh Dinas Pendidikan setempat untuk dimintai keterangan. Dinas Pendidikan menyarankan agar oknum guru atau pihak sekolah segera menyampaikan permohonan maaf kepada para wartawan.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa sebelum kedatangan keempat wartawan tersebut, sekolah itu telah kedatangan awak media lainnya yang telah menayangkan hasil kerjanya, diduga menyebabkan asumsi yang merugikan profesi wartawan.

"Kita tunggu bersama kelanjutannya. Semoga ini menjadi pembelajaran agar ke depannya lebih bertanggung jawab," pungkas Cep Jenar.**