Selasa, 14 April 2026 | 20:06 WIB

Demo di DPRD Jabar berujung ricuh, rumah dinas MPR dan motor terbakar

Demo di DPRD Jabar Ricuh, Rumah Dinas MPR dan Kendaraan Terbakar

foto

Sisa kerusuhan di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Bandung. Sejumlah kendaraan dan bangunan hangus terbakar usai aksi demonstrasi ricuh. (Foto: tangkapan layar)

BANDUNG, indoartnews.com – Aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (29/8/2025) berakhir ricuh. Massa yang terdiri dari mahasiswa dan pengemudi ojek online (ojol) melakukan perusakan hingga membakar rumah dinas milik MPR RI yang berada di seberang gedung DPRD Jabar. Sejumlah kendaraan roda dua juga ikut terbakar dalam kerusuhan tersebut. Insiden ini meninggalkan kerugian material dan menciptakan kepanikan warga sekitar.

Sejak siang hari, ratusan massa sudah berkumpul di sekitar Jalan Diponegoro, Bandung. Mereka melakukan orasi menuntut keadilan dan sejumlah kebijakan yang dianggap merugikan rakyat kecil. Awalnya, suasana aksi berjalan damai, namun menjelang sore ketegangan mulai meningkat ketika sebagian massa melempari aparat dengan batu dan botol.

Puncak kericuhan terjadi menjelang malam. Massa melemparkan bom molotov ke arah rumah dinas MPR RI yang berada persis di seberang Gedung DPRD Jabar. Api dengan cepat menjalar, membakar bagian depan bangunan hingga meludeskan beberapa kendaraan yang terparkir di halaman. Kobaran api yang membumbung tinggi sempat membuat panik warga sekitar dan pengguna jalan yang melintas.

Petugas pemadam kebakaran langsung dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk mengendalikan kobaran api agar tidak merembet ke bangunan lain. Selama proses pemadaman berlangsung, polisi menutup akses Jalan Diponegoro dan menambah kekuatan pasukan guna mencegah massa kembali berbuat anarkis.

Aparat kepolisian terpaksa menggunakan water cannon dan gas air mata untuk membubarkan massa yang semakin tidak terkendali. Puluhan orang yang diduga sebagai provokator diamankan dan dibawa ke Mapolrestabes Bandung untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hingga kini, polisi masih melakukan pendataan terkait jumlah korban luka maupun total kerugian material akibat kerusuhan.

Suasana di sekitar lokasi aksi mencekam. Beberapa toko dan rumah di kawasan Jalan Diponegoro menutup lebih awal karena khawatir menjadi sasaran massa. “Kami takut api merembet ke rumah, jadi langsung mengungsi dulu ke tempat saudara,” ujar seorang warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi kejadian.

Pemerintah Kota Bandung dan DPRD Jawa Barat menyayangkan aksi anarkis yang terjadi. Mereka menegaskan bahwa penyampaian aspirasi tidak boleh dilakukan dengan cara perusakan, apalagi pembakaran aset negara. “Pintu dialog selalu terbuka, tetapi tindakan kekerasan seperti ini justru merugikan masyarakat luas,” kata seorang anggota DPRD Jabar.

Hingga Jumat malam, aparat masih melakukan penjagaan ketat di kawasan Gedung DPRD Jabar untuk memastikan situasi kondusif. Kasus ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, karena kericuhan yang seharusnya bisa dihindari kini menimbulkan kerugian besar, baik secara material maupun psikologis bagi masyarakat sekitar.**