AHMEDABAD, indoartnews.com — Dalam hitungan detik, langit yang cerah di atas Ahmedabad berubah menjadi kobaran api. Pesawat Air India AI-171 yang baru saja lepas landas menuju London, Kamis siang, 12 Juni 2025, jatuh dan menghantam asrama mahasiswa di kawasan B.J. Medical College. Suara ledakan mengguncang tanah. Api membubung. Dan dunia kembali berduka.
Pesawat Boeing 787 Dreamliner itu membawa 230 penumpang dan 12 awak. Hanya satu orang yang selamat: Vishwash Kumar Ramesh, pria 42 tahun asal Inggris. Duduk di dekat pintu darurat, Vishwash terlempar dan jatuh di semak tak jauh dari reruntuhan. Tubuhnya luka-luka, tapi nyawanya utuh. “Saya mendengar suara aneh, lalu semuanya gelap. Ketika membuka mata, saya melihat langit dan api di mana-mana,” katanya lirih kepada tim penyelamat.
Tangis Tak Terbendung
Sebanyak 241 jiwa tewas, termasuk 28 korban di darat. Banyak di antaranya adalah mahasiswa kedokteran yang sedang istirahat di kamar asrama. Keluarga korban kini berbondong-bondong ke rumah sakit dan kamar jenazah—menanti kabar yang hampir pasti tidak mereka harapkan.
Seorang ibu paruh baya, menangis di pelataran rumah sakit sambil menggenggam paspor putrinya yang tak pernah sempat mendarat di negeri impian. “Dia ingin belajar ke London, itu mimpinya sejak kecil,” ucapnya pilu.
Misteri Penyebab & Sorotan Dunia
Otoritas India, bersama pakar internasional dari Inggris dan AS, langsung turun tangan. Kotak hitam pesawat telah ditemukan dan tengah dianalisis untuk mengetahui penyebab tragedi. Ada dugaan kuat kerusakan sistem kendali setelah lepas landas—pesawat tak sempat naik, lalu menukik dan menghantam daratan dalam tempo kurang dari 40 detik.
Pemerintah memerintahkan pemeriksaan menyeluruh seluruh armada Boeing 787 milik Air India. Di media sosial, warganet menyoroti fakta bahwa pesawat sempat mengalami gangguan teknis pada penerbangan sebelumnya.
Bukan Sekadar Statistik
Kematian 241 jiwa bukan hanya angka. Di dalamnya ada mimpi yang pupus, surat cinta yang tak sempat dibaca, panggilan video yang tertunda, dan keluarga yang selamanya kehilangan.
Dari India hingga Inggris, dari Kanada hingga Portugal, para pemimpin dunia menyampaikan belasungkawa. Tapi di Ahmedabad, yang tertinggal adalah puing, duka, dan pertanyaan: bagaimana semua ini bisa terjadi?
Satu Kursi Kosong di Tengah Kepedihan
Di sebuah rumah sakit di Ahmedabad, Vishwash masih terbaring dalam perawatan. Ia satu-satunya saksi hidup dari peristiwa yang akan dikenang sebagai salah satu tragedi penerbangan paling menyayat hati dalam sejarah India modern. “Saya tidak tahu kenapa saya hidup,” bisiknya. “Tapi mungkin saya harus menyampaikan pada dunia... betapa rapuhnya hidup ini.” Di antara ratusan kursi penumpang, hanya satu yang tersisa dengan denyut hidup. Sisanya sunyi.
Satu kursi kosong, bukan karena tak ada penumpang, tapi karena hidupnya masih bertahan di antara kabut duka.**