Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:48 WIB

Situs Bumiayu

Empat Pelajar Turun Langsung ke Situs Purba Bumiayu, Dunia Arkeologi Jadi Pengalaman Nyata

foto

Sejumlah pelajar mengikuti observasi dan studi lapangan di Museum Purbakala Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, bersama peneliti dan pengelola situs dalam kegiatan edukasi arkeologi untuk generasi muda.

JAKARTA, indoartnews.com – Empat pelajar dari sistem pendidikan hybrid dan homeschooling mengikuti studi lapangan langsung ke Situs Purbakala Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, untuk mempelajari dunia arkeologi, arkeometri, dan pelestarian sejarah bersama para peneliti dan pengelola situs.

Kegiatan bertajuk “Petualangan Mengungkap Sejarah di Bumiayu – Studi Lapangan dan Publikasi Situs Purbakala untuk Generasi Muda” itu berlangsung pada 3 hingga 6 Mei 2026 dan menghadirkan pengalaman belajar langsung di tengah aktivitas penelitian arkeologi.

Peserta kegiatan terdiri dari Shanterygve Adriel Kastanya, Grimonia Tarari Zaneta Kamila, dan Quinxia Evangeline Yaotama dari Alta Global School, serta Nathan Dipa Dewangga dari Strive Online Homeschooling.

Perjalanan dimulai dari Kawasan Stasiun Lapangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Museum Purbakala Bumiayu. Pada hari pertama, para peserta melakukan observasi museum serta wawancara langsung dengan pengelola untuk memahami proses pelestarian artefak dan tantangan menjaga situs purbakala secara mandiri.

Museum Purbakala Bumiayu menjadi salah satu lokasi yang paling membekas bagi para peserta. Museum tersebut dibangun dan dijaga secara mandiri oleh masyarakat lokal bersama pegiat pelestarian budaya.

“Museum ini bukan sekadar ruang penyimpanan fosil dan artefak, melainkan simbol nyata kepedulian masyarakat terhadap sejarah daerahnya sendiri,” ujar Dipa.

Pada hari berikutnya, peserta melakukan perjalanan lapangan ke Kaligua dan Jembatan Sakalibel peninggalan era kolonial Belanda bersama tim Museum Purbakala Bumiayu. Mereka juga turun langsung ke lokasi ekskavasi bersama mahasiswa dan peneliti senior.

“Kami menyaksikan proses penelitian lapangan, dokumentasi temuan, dan berdialog langsung dengan sejumlah peneliti dan praktisi di bidang arkeologi, geoarkeologi, arkeometri, dan museologi,” terang Quinx.

Sejumlah peneliti yang terlibat di antaranya Hari Wibowo dari Pusat Riset Arkeometri BRIN, Fakhri dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, geoarkeolog Eugenius Olafianto Drepriputra Wisnudhana, Elyjah Ahmad Cezare dari Universitas Hasanuddin, serta Mouzalina Raisha Anfal dari Universitas Udayana.

Melalui observasi dan wawancara langsung, para peserta mempelajari berbagai metode penelitian modern mulai dari survei terestrial, pemantauan udara menggunakan drone, ekskavasi, identifikasi fauna dan fosil, hingga pendekatan arkeometri berbasis analisis laboratorium.

“Bumiayu berpotensi memberikan pembaruan terhadap penelitian sebelumnya. Bisa jadi ada temuan yang lebih tua dibanding temuan yang selama ini dikenal masyarakat,” ujar Fakhri.

Menurut para peneliti, kawasan Bumiayu disebut sebagai salah satu daratan awal yang terangkat di Pulau Jawa dengan rentang usia sekitar 2,4 juta hingga 1,8 juta tahun lalu. Penelitian di kawasan tersebut juga membuka peluang kajian baru terkait keberadaan Homo erectus di Pulau Jawa.

Pada hari terakhir, peserta mengunjungi Candi Poh dan kawasan “laut purba” Bumiayu untuk melakukan observasi, pencarian fosil, serta wawancara dengan masyarakat lokal mengenai sejarah lisan dan tradisi budaya yang masih bertahan hingga kini.

“Masyarakat lokal menjelaskan bahwa Bumiayu bukan hanya tentang fosil, tetapi wilayah yang menyimpan lapisan sejarah, budaya, dan tradisi yang masih hidup hingga kini,” papar Tara.

Selain melakukan riset dan wawancara, para peserta juga menyusun dokumentasi visual dengan pendekatan dokumenter lapangan yang terinspirasi dari visual storytelling dan dokumentasi ilmiah profesional agar sejarah dapat lebih mudah dipahami generasi muda melalui media digital.

Malam terakhir di Bumiayu diisi dengan kebersamaan sederhana bersama mahasiswa dan tim lapangan. Percakapan santai dan cerita perjalanan penelitian menjadi penutup pengalaman belajar langsung di lapangan.

“Habitat para ilmuwan akan membentuk anak-anak menjadi pribadi intelektual. Semoga mereka menemukan jalannya masing-masing,” ujar Bonifasius Bayu Brathara, salah satu orang tua peserta.

Hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan nantinya akan dikembangkan menjadi esai ilmiah, buku perjalanan, hingga buku cerita rakyat berbasis penelitian lapangan dan wawancara masyarakat lokal.

“Melalui kegiatan ini, para peserta berharap Situs Bumiayu dan Museum Purbakala Bumiayu semakin dikenal generasi muda Indonesia,” pungkas Bayu.**