Jumat, 15 Mei 2026 | 00:08 WIB

Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis Disesuaikan Hari Sekolah, Daerah 3T Tetap Dapat Tambahan Sabtu

foto

Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyiapkan paket makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi dan penurunan angka stunting di Indonesia. (Foto: Humas Pemkot Bandung)

JAKARTA, indoartnews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah terus diperkuat melalui kebijakan terbaru pemerintah. Dalam Rapat Koordinasi Tingkat Atas bersama Presiden pada Sabtu, 28 Maret 2026, diputuskan bahwa penyaluran MBG akan menyesuaikan dengan hari sekolah.

Anak sekolah yang menjalani kegiatan belajar selama lima hari dalam seminggu akan menerima program MBG selama lima hari tersebut. Kebijakan ini bertujuan menjaga konsistensi pemberian asupan gizi sesuai aktivitas belajar siswa.

Namun demikian, kebijakan khusus diterapkan bagi daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) serta wilayah dengan prevalensi stunting tinggi. Di daerah tersebut, program MBG tetap disalurkan pada hari Sabtu.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan langkah tersebut merupakan strategi untuk memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi secara optimal.

“Pemberian MBG di hari Sabtu untuk daerah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategis memastikan anak-anak menerima gizi yang cukup setiap hari,” ujarnya.

Badan Gizi Nasional menekankan pentingnya pendataan yang akurat dalam menentukan wilayah yang berhak mendapatkan kebijakan khusus tersebut. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 milik Kementerian Kesehatan menjadi acuan utama.

Koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan di daerah juga dilakukan untuk memastikan program berjalan tepat sasaran, termasuk pendataan jumlah sekolah, siswa, serta kondisi stunting di masing-masing wilayah.

Sejumlah wilayah di Indonesia Timur, Sumatera, dan Papua menjadi prioritas karena masih memiliki angka stunting yang cukup tinggi.

“Integritas data sangat penting karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dari pemenuhan gizi,” tegas Dadan.

Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap seluruh anak sekolah, khususnya di daerah dengan risiko tinggi, dapat memperoleh asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.**