Sabtu, 4 Desember 2021 | 00:01 WIB

Rendahnya Dunia Literasi Kita

foto

 

Oleh : WS AZIZ ( Litbang indoartnews.com)

Indonesia menjadi negara yang menempati rangking ke 62 dari 70 negara. Menjadikannya 10 negara dengan rangking terendah dalam hal literasi. Hasil tersebut berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019. Pengertian literasi sendiri menurut KBBI yaitu berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam membaca-menulis, pengetahuan seseorang dalam mengetahui subjek pengetahuan, dan kemampuan individu dalam mengolah informasi serta pengetahuan.

Ada banyak permasalahan dalam soal literasi di negeri yang konon mayoritasnya adalah pemeluk agama Islam ini, di antaranya ada pada kelompok terdidik itu sendiri. Salah satu dari sekian banyak masalah terbesar di perguruan tinggi Indonesia adalah; terlalu banyaknya urusan formalitas birokrasi akademik dan kegiatan non akademik yang bersifat organisatoris. Hal tersebut tentu tidak mendorong ke arah semangat literasi, budaya kritis akademik, dan kecakapan intelektual.

Buruknya dunia literasi perguruan tinggi kita ini diperparah dengan kehidupan hedonisme dan nalar kritis yang liar tanpa dibarengi metodologi. Para mahasiswa-mahasiswi banyak mengikuti urusan-urusan yang tidak mendorong pada tradisi literasi yang kritis. Kegiatan mereka hanya dijejali oleh urusan yang bersifat “gerakan”, baik itu gerakan keagamaan yang puritan atau gerakan politik kampus. Alih-alih menjadi manusia ilmiah/pemikir, malah menjadi anggota partai politik, atau ikut kelompok jihadis. Oleh sebab itu mereka sulit bersaing dengan orang-orang dengan semangat literasi tinggi yang tingkatannya masih di bawah mereka secara formal akademik.

Buruknya dunia literasi kampus kita juga disebabkan oleh mereka (mahasiswa) yang jauh dari ilmuwan-ilmuwan/kaum intelektual dengan kredibilitas tinggi dalam ilmu pengetahuan.

Kelompok kampus saat ini malah banyak mendekati kelompok politik dan mendatangi atau didatangi ormas-ormas agama daripada datang pada kelompok-kelompok Intelektual atau diskusi Ilmiah.

Boro-boro bisa membangun start-up atau kreativitas akademik, untuk menyelamatkan literasi, diri sendiri saja akhirnya tak berdaya, karena buruknya membangun relasi dan rendahnya dunia literasi mereka. Sehingga sudah selesai kuliah, cita-citanya hanya sebatas semangat pada gerakan kegiatan tanpa tujuan memajukan intelektual.

Akhirnya hanya mengajukan proposal-proposal kegiatan gerakan, mencari pendanaan pada pemerintah, dan penggalangan dana untuk gerakan kemanusiaan atas nama agama tertentu. Ujung-ujungnya berakhir di kantong pribadi demi peningkatan gengsi, dan menciderai gerakan dengan proposal atas nama idealisme dan agama.

Kegiatan semacam ini sepertinya masih terjadi sampai hari ini, dan akan terus berlanjut sebagai perpanjangan kontestasi politik lembaga ormas agama maupun lembaga ormas politik. Hal tersebut merupakan salah satu tantangan terberat bagi perguruan tinggi kita, diperparah para pejabat kampus yang sibuk dengan proyek-proyek, akibatnya tujuan sebagai akademisi sudah hilang roh intelektualnya, yang ada hanya berebut anggaran.

Romantisme Tradisi Literasi Muslim di Masa Lampau Indonesia merupakan negara muslim terbesar di Dunia, namun kuantitas sebagai entitas muslim, tak mencerminkan semangat dan peradabannya. Sejak pertama kali diturunkan ke muka Bumi, semangat kitab suci al-Qur’an mendorong ke arah tradisi literasi, ayat pertama turun kepada Muhammad SAW adalah semangat membaca “iqra, iqra, iqra”. Tuhan menekankan soal tradisi literasi, bukan yang lain, apalagi jihad.

Lalu, penekanan yang selanjutnya setelah “iqra” adalah menulis, yaitu “al-Qalam”. Menulis ialah penekanan kedua setelah membaca, menulis merupakan tradisi agama yang terus menjadi titah dan harus dilakukan umat pemeluknya. Karena tanpa tradisi ini, mustahil ayat-ayat Tuhan itu bisa tersebar dan tersampaikan pesan-pesannya pada manusia di seluruh muka Bumi.

Berikutnya tahapan spiritualitas roh yang kuat agar memiliki kekuatan psikologis yang tangguh. Mendekatkan diri pada Tuhan, memenuhi unsur-unsur ibadah yang bersifat privat. Hal ini tercermin pada perintah Tuhan untuk bangun di tengah malam atau sepertiga malam, “Qum al-Lail”.

Selajutnya semangat yang dibangun oleh al-Qur’an itu adalah bangkit “Kum fa andzir”, ini merupakan penekanan Tuhan setelah membaca, menulis, dan membersihkan diri, yaitu bangkit semangat bergerak untuk menyampaikan gagasan apa yang sudah dibaca (iqra) dan apa yang sudah ditulis (al-Qalam) dibarengi dengan memiliki roh spritualitas yang dalam, sempurna. Bangkit atau bergerak merupakan pesan al-Qur’an ditahap ke empat, bukan sebaliknya menjadi fokus utama atau diletakan pada posisi pertama. Itulah misi kenabian Muhammad yang dilukiskan al-Qur’an.

Empat tahapan tadi merupakan runutan dari sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an. Dalam studi al-Qur’an disebut asbab al-Nuzul yang disampaikan malaikat Jibril pada nabi Muhammad SAW (surat al-‘Alaq, al-Qalam, al-Muzamil dan al-Mudatsir) sebagai spirit/semangat dalam membangun peradaban dan tradisi literasi. Sebuah konsep dalam al-Qur’an untuk pondasi misi kerasulan Muhammad SAW dalam memajukan intelektualitas pengikutnya.

Prinsip-prinsip dasar ini sayangnya tidak digaungkan oleh masyarakat akademik muslim kita, tak digelorakan semangatnya ke arah yang telah disampaikan dalam prinsip-prinsip agamanya. Sehingga mengakibatkan tumpulnya pemikiran, kaku dalam pergaulan, mudah terprovokasi oleh kajian-kajian instan dan tidak memiliki dasar-dasar ilmu pengetahuan, keringnya tradisi membaca, runtuhnya semangat menulis, bahkan masa depannya semakin terbelakang.

Hal tersebut sangat jauh berbeda ketika kejayaan kaum muslim masa lampau sebelum kemajuan modern hari ini berkembang pesat. Dasar-dasar dalam spirit tadi dilakukan dan dipraktekkan oleh semua lapisan. Contohnya kaum muslim pada masa kejayaan Islam di Andalusia. Pada saat itu, kaum muslim Andalusia merupakan potret peradaban dengan ilmu pengetahuan yang sangat maju.

Andalusia merupakan pusat pemerintahan kaum muslimin setelah Baghdad, namun majunya tradisi literasi, pesatnya ilmu pengetahuan begitu progresif juga modern pada masanya. Sampai bisa mengalahkan tempat pertama kali Islam dilahirkan. Andalusia pun akhirnya banyak melahirkan para sarjana dan filsuf muslim terkemuka hingga 300 ratus tahun lamanya.

Perkembangan seni arsitektur, sastra, sains, logika, astronomi, seni menari, dan menyanyi tumbuh subur dikalangan rakyat biasa hingga istana. Pemerintahan muslim di Andalusia, istananya disesaki oleh buku-buku dan literatur, istananya dikelilingi perpustakaan besar, hampir di tiap sudut-sudut kota dan pasar banyak orang menjajaki buku-buku, jauh melampaui bangsa Eropa lainnya seperti Inggris dan Prancis. Pada saat itu, ketika bangsa Eropa di istana mereka hanya mengoleksi tak lebih dari sepuluh ribu buku, pemerintahan Islam di Andalusia memilki empat ratus ribu koleksi judul buku, dan puluhan ribu katalog buku.

Di Andalusia tradisi literasi memang sangat pesat, seperti bongkahan emas kehidupan yang pernah dibangun oleh kejayaan kaum muslim dari Timur. Pada masa pemerintahan al-Hakam di Andalusia, dalam tulisan Sayid Ameer Ali (1849-1928 M) menerangkan bahwa, Hakam adalah seorang yang mencintai literatur dan ilmu pengetahuan, Hakam sangat royal pada orang yang semangat belajar.

Hakam merupakan orang yang suka mengoleksi banyak buku, tak heran hingga Andalusia begitu maju ketika dalam kepemimpinannya. Karena para pendahulunya memiliki tradisi kecintaan pada ilmu pengetahuan, bahkan Hakam memperkaya perpustakaan dengan koleksi buku-buku langka dan berharga. 

Tidak ada seorang yang paling semangat dalam menggarap proyek literasi selain kegigihan seorang Hakam. Perpustakaan Hakam memiliki pustakawan yang terampil dan ahli menyusun katalog-katalog buku hingga mampu menyusun buku-buku dengan rapi, bahkan koleksi buku-bukunya mencapai 400.000 judul dan ribuan katalog buku.

Banyak yang mengatakan perhatian penguasa al-Hakam terhadap ilmu pengetahuan setara dengan khalif Al-Makmun, pada pemerintahan Abbasiah yang berhasil memajukan peradaban ilmu di Baghdad. Konon Hakam pernah mendatangkan ulama-ulama dan mengimport berbagai jenis literatur dari berbagai negara, khususnya dari Baghdad. Di samping mengkaji beberapa tenaga ahli untuk pembuatan naskah dan cover buku sendiri di wilayahnya, Andalusia. Sejarah menjelaskan pada kita, kaum muslimin Andalusia dengan ibu kota Cordoba adalah negara Muslim yang pernah mengalami puncak kejayaan yang sangat pesat di bidang ilmu pengetahuan, terutama pada masa Abdurahman III Al-Nashir (300-350 H) dan mencapai puncaknya pada masa ayah Hisyam al-Muayad, yakni Al-Hakam Al-Mustanshir (350-366H).

Para penduduk di Cordoba merasa kurang bergengsi jika di rumah mereka tak memilki buku-buku literatur yang banyak, setidaknya rumah mereka harus memiliki aksen-aksen yang berkaitan dengan literasi.

Oleh karenanya, tak heran seorang pemikir kontemporer Syakib Arslan pernah menulis risalah, dengan judul diedit oleh Rashid Ridha “Limadza taakharal Muslimun wa limadza taqaddama ghairuhum?” (Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Kaum non Muslim Maju?). 

Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kaum muslimin terhadap tradisi ilmu pengetahuan, dan kaum muslimin terlalu jumud (taklid buta) dan para tokohnya terlalu membanggakan jumlah pengikut, mengedepankan kuantitas daripada kualitas, tentu banyak faktor mengapa kaum muslimin terbelakang pada hari ini. 

Senada dengan Arslan, Ahmet T. Kuru menjelaskan tentang sebab-sebab mengapa dunia muslim terbelakang, di antarnya karena hari ini jauh berbeda dengan muslimin di abad pertengahan, pada masa itu mereka memiliki gairah dalam tradisi intelektual dan ekonomi (berdagang). Sehingga seperti di Andalusia banyak para pemikir agama menggeluti disiplin ilmu non agama, mereka walaupun memiliki kecendrungan puritan, namun sangat toleran, terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan tradisi filsafat, astronomi, kimia, algoritma, dan ilmu logika lainnya.

Sebaliknya, di era modern hari ini kita jauh terbelakang dalam gairah terhadap tradisi ilmu, di banding pada masa kejayaan umat Islam di Andalusia. **