Kamis, 5 Agustus 2021 | 08:36 WIB

Pancasila, Ketuhanan dan Pandemi

foto

WS. Azis

Oleh : WS. Azis

Setiap tanggal 1 Juni, Pancasila, juga dieja Pantjasila, adalah lima prinsip dasar Negara Indonesia. Lima Prinsip tersebut kemudian menjadi cetak biru bangsa Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Panca Asas tersebut disusun dengan urutan yang sedikit berbeda dan dengan kata yang berbeda: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, demokrasi di bawah tuntunan yang bijak dari musyawarah perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penulis menyoroti satu hal dari sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Tentu tidak menjadi satu monopoli kelompok agama tertentu, atau menjadi klaim sepihak satu agama mayoritas tertentu. Dalam fondasi Negara, ketuhanan harus bersifat plural, yakni pengertian satu Tuhan bisa diartikan untuk semua agama, berkeyakinan untuk meyakini Tuhan yang mereka peluk. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan berketuhanan masyarakat relasinya dengan negara, sesuatu niscayaan dan sangat penting, untuk mewujudkan yang terkandung dalam nilai-nilai semua agama dan keyakinan.

Komitmen terhadap ketuhanan atau agama tidak selalu harus diartikan dalam pengertian sepihak atau tafsir dari satu agama tertentu. Karena, semangat Pancasila dilahirkan oleh semangat persatuan dan persamaan hak. Pancasila yang mempersatukan ratusan kelompok etnik, budaya dan agama Indonesia, tidak melihat mayoritas maupun minoritas, agar mereka hidup damai berdampingan.

Berketuhanan adalah sifat sebuah bangsa yang sangat luhur dan agung. Hari ini, di era digital sebuah abad yang sangat serba cepat, dan semua orang bisa menganggap semua informasi dari semua arah penjuru dunia, tak terkecuali para anak milenial bahkan anak-anak yang belum mecapai remaja sudah bisa berselancar mendapat dan mencari informasi, hanya dari satu genggaman tangan dan satu klik jari. 

Oleh karena itu, sila pertama Negara kita itu berketuhanan. Di dalam sila tersebut terkandung budi pekerti yang sangat luhur, tertanam nilai-nilai agama yang sangat agung, mengandung soal budi pekerti, etika dan budaya yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain. Sehingga sederasnya informasi dunia yang banyak mempengaruhi kelompok milenial tersebut, bisa teredam oleh sila inilah yang akan sanggup menjadi pagar, peredam dan menahan arus laju info-info negatif yang datang dari luar.

Kita sangat bersyukur komitmen para kelompok milenial di negara kita terhadap agama masih kuat, di satu pihak. Namun, tentunya pengertian agama tersebut harus memiliki pengertian yang sangat luas itu, bukan dalam monopoli agama tertentu di pihak lain. 

Pada tahun 2017 Global Citizen Survey, melaporkan bahwa kelompok milenial Indonesia, para kelompok milenial tersebut mengatakan, bahwa agama masih cukup penting sebagai salah satu faktor penting kebahagian, angkanya cukup tinggi mencapai 93% di banding dengan Negara-negara lain. Sejak setahun lebih yang lalu pandemi Covid-19 mewabah di dunia dan hampir di semua negara masih berupaya untuk mengatasi masalah virus yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh semua orang di dunia ini. Tidak hanya mengatasi persoalan virus tersebut dan bagaimana cara menyelesaikan orang yang terkena oleh virus itu. Namun dampak yang dirasakan dari wabah covid ini merontokkan semua sektor ekonomi di dunia, tak terkecuali Indonesia.

Sejak Covid-19 mewabah di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 terkontraksi minus 2,07 persen. Ini menunjukkan Indonesia masih terjebak dalam jurang resesi akibat pertumbuhan ekonomi negatif selama tiga kuartal beruntun.

Pengumuman BPS di atas simetrik apa yang terjadi di lapangan, memang kalau kita lihat masyarakat, kegiatan ekonomi sangat lesu dan nyaris lumpuh. Banyak kelompok menengah menjadi miskin baru. Sektor ekonomi lain dan moda tranportasi umum pun tak berdaya. Semua tidak terbayangkan oleh bangsa ini sebelumnya, karena sebelum covid-19 menyerang bangsa ini, laju pertumbuhan ekonomi kita, cukup baik. Sehingga dalam situasi tersebut Presiden Jokowi, pernah menekankan pentingnya kepekaan terhadap sesama, yang ia sebut, Sense of Crisis dalam menghadapi situasi semacam itu. Tentu kepekaan yang tidak melihat ras, golongan, atau agama tertentu. Semua sama satu warga Negara, sehingga orang-orang yang terkena dampak akibat pandemic Covid-19 bisa terbantu, paling tidak bisa mengatasi kebutuhan sehari-hari mereka. Kepekaan terhadap sesama, tercermin pada sila kedua Pancasila, yaitu “ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.

Kalau kita lihat banyak laporan resmi yang mengatakan bahwa tren persebaran Covid-19 di beberapa negara mulai mengindikasi ke arah penurunan, sehingga hal ini menumbuhkan optimisme pemulihan ekonomi akan dimulai tahun 2021 meskipun berakhirnya pandemi ini sulit dipastikan.

Namun demikian, pemulihan ekonomi bagi yang terkena dampak dari pandemi tersebut masih cukup sulit, sampai kapan orang-orang ini bisa punya harapan bangkit kembali. Namun, sebagai bangsa yang besar yang memilki dasar Negara Pancasila, kita harus tetap memiliki rasa optimisme yang tinggi, hal ini memang sangat mudah diucapkan, namun walau terasa berat kita praktikkan.

Semoga di hari, kelahiran Pancasila ini, kita keluar dari krisis akibat pandemic covid-19 dan wabah tersebut, segera berakhir. Selamat Hari Lahir Pancasila!

*Penulis adalah Litbank dan Dewan Redaksi indoartnews.com