Selasa, 11 Agustus 2020 | 22:21 WIB

Sebutan Citarum Terkotor di Dunia Kini Mulai Berangsur-angsur Jernih

foto

Ken Zanindha

Catatan  H. Eddy Djunaedi, Redaktur indoartnews.com

Sebutan sungai Citarum terkotor di dunia menjadi tantangan segenap aparat dan masyarakat. Ini karena sejak dulu kala, Citarum selalu dipergunakan untuk mandi warga yang berada di bantaran sungai terpanjang di Jawa Barat tetapi tidak digunakan untuk buang air besar. Tidak pernah.

Mereka yang mandi di Citarum tak pernah merasakan gatal di tubuhnya. Mereka juga menikmati kesegaran sungai yang legendaris. Ini dirasakan penulis sendiri yang lahir tahun 1941 dan penduduk Desa Manggahang Kec. Ciparay Kewedanaan Majalaya. Tetapi ketika bermunculan pabrik tekstil di wilayah Jawa Barat sekitar tahun 1972an, Citarum banyak tercemar dengan limbah pabrik dan sampah buangan masyarakat. Sebutan Desa Manggahang menjadi Kelurahan dan Kecamatan pun menjadi Kecamatan Baleendah nama Kewedanaan lenyap kondisi Citarum tambah parah.

Kenangan masa lalu dengan kondisi air Citarum yang bisa dimanfaatkan untuk mandi dan berenang oleh anak anak, ba'da 1972 sudah sirna. Dulu berbagai jenis ikan, mulai ikan paray, lele, mujaer, deleg atau belut sering menjadi arena menangkap ikan oleh anak-anak mau pun orang dewasa. Semua sirna.tidak ada lagi yang bisa dimanfaatkan. Padahal itu semua rejeki dari Allah SWT. Namun akibat perkembangan teknologi dan penduduk yang kian padar semua itu lenyap. Citarum tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk mandi dan arena "ngala lauk" bagi anak-anak atau orang dewasa. Anak-anak tidak lagi ceria dan bercengkrama dengan sesama menikmati Citarum.

Semua itu tinggal kenangan. Hanya tinggal impian, khususnya bagi anak anak dulu yang kini masih diberi usia oleh Allah SWT dalam usia yang sudah aki-aki sudah "cueut ka hareup" dan hal itu banyak ditanyakan cucu-cucu dan buyut. Namun penulis yang sudah aki-aki ini hanya tercenung.

Di satu pihak perkembangan teknolgi menguntungkan masyarakat dengan munculnya penerimaan pekerja oleh pabrik-pabrik khususnya bagi angkatan kerja yang masih menganggur. Namun, di pihak lain manusia pengguna teknologi itu tidak tampaknya tidak memedulikan masalah lingkungan. Malah mereka ingin mudahnya saja. Tak peduli lingkungan. Masa bodo. Yang penting terbuang.

Inilah perilaku yang tidak terpuji. Acuh. Pokoknya asal sekitarnya bersih. Tak peduli di tempat lain tercemar. Inilah sikap yang menyebabkan muncul berbagai penyakit. Sikap inilah yang harus disingkirkan. Bisakah ? Bisa! Asal setiap individu benar-benar sadar dan insyaf terhadap bahaya pencemaran.

PERPRES  15  PENYELAMAT

 Dalam lamunan masa lalu, penulis masih membayangkan manfaat Citarum bagi warga sekitar bantaran sungai yang banyak manfaatnya bagi masyarakat. Tahun 2018 muncul Peraturan Presiden No. 15 tahun 2018 yang memberi perintah untuk mengembalikan sungai Citarum supaya jernih lagi dengan program "Citarum Harum".

Melalui Perpres itu, dibentuklah beberapa Sektor untuk menangani dan mengembalikan Citarum kembali lagi seperti sediakala. Dalam tempo beberapa bulan Citarum berangsur-angsur pulih. Karena pabrik-pabrik yang membuang limbahnya ke anak-anak sungai diinspeksi oleh Komandan-komandan Sektor beserta semua Dansubsektornya.

Para pengusaha pabrik yang buang limbah dari Instalasi Pengolahan Air limbah (IPAL) ditegor karena membuang air limbahnya yang masih kotor dan berbau. Mereka diberi peringatan dulu untuk memperbaiki air olahan pabrik dalam waktu yang tidak ditentukan. Setelah itu diinspeksi lagi jika masih kotor dengan terpaksa lubang pembuangannya dicor sampai air limbahnya bersih serta jika sudah bersih, corannya dibuka lagi.

Berkat tindakan tegas dari seluruh Dansektor beserta jajarannya, kini air Citarum mulai jernih sehingga para penggemar mancing sudah mulai berjajar mancing di sungai Citarum. Bukan itu saja, anak-anak sungai juga dibersihkan dan malah di bantaran anak sungai juga dibuat nyaman untuk istirahat yang dikerjakan Sektor beserta jajarannya dan masyarakat. 

Masyarakat menyadari kebersihan pangkal kesehatan sehingga untuk buang sampah organik dan non organik juga disediakan. Pembuatan bak,-bak sampah dilaksanakan Sektor beserta jajarannya bersama masyarakat. Aparat Sektor mendapat partisipasi masyarakat.

Jika ada yang mengatakan masih belum mencapai sasaran, orang tersebut belum memahami kondisi Citarum sebelum Perpres No. 15/2018 yang menerjunkan jajaran TNI. Sebelum itu, kondisi air Citarum pekat, kotor dan berbau menyengat.

Mudah-mudahan melalui tulisan sederhana ini, Citarum kembali ke awal dengan kesadaran semua pihak, pemilik pabrik mau pun masyarakat. Bahkan semoga jernih dan harum. Aammiiin.

(Penulis  anggota  PWI  seumur hidup)