Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57 WIB

Polemik LCC MPR RI

MC LCC MPR RI Shindy Lutfiana Minta Maaf Usai Namanya Ramai Dikaitkan dengan Polemik Viral

foto

MC dalam Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalimantan Barat ikut menjadi perhatian publik setelah video polemik penilaian peserta viral di media sosial. (Sumber foto: Tangkapan layar media sosial)

JAKARTA, indoartnews.com – Shindy Lutfiana, MC Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, menyampaikan permohonan maaf setelah namanya ramai dikaitkan dengan polemik penilaian peserta pada Selasa, 12 Mei 2026.

Shindy menjadi perbincangan setelah video polemik penilaian peserta dalam final LCC Empat Pilar MPR RI beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, ucapannya saat memandu acara dinilai kurang tepat oleh sebagian warganet ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak menyampaikan keberatan atas keputusan juri.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Shindy menyampaikan permohonan maaf atas ucapannya, terutama kalimat yang dinilai tidak patut disampaikan dalam kapasitasnya sebagai MC. Ia juga mengaku menyesali pernyataan tersebut karena telah menimbulkan kekecewaan dan ketidaknyamanan bagi sejumlah pihak.

Permintaan maaf itu ditujukan kepada peserta lomba, guru pendamping, pihak SMAN 1 Pontianak, masyarakat Kalimantan Barat, serta publik yang mengikuti jalannya polemik tersebut. Shindy menyatakan menerima kritik dari masyarakat sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi diri.

Polemik ini bermula dari keberatan Josepha “Ocha” Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak, terhadap penilaian juri dalam salah satu sesi lomba. Jawaban timnya dinilai salah dan mendapat pengurangan poin, sementara jawaban serupa dari peserta lain disebut dinyatakan benar.

Setelah video tersebut viral, MPR RI melalui Sekretariat Jenderal MPR RI juga menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dewan juri. MPR RI kemudian menonaktifkan dewan juri dan MC pada kegiatan tersebut serta menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan lomba.

Kasus ini menjadi pembicaraan luas karena menyangkut objektivitas penilaian, etika komunikasi dalam forum pendidikan, serta pentingnya ruang keberatan yang adil bagi peserta lomba.**(Red)