Kamis, 11 Juni 2026 | 13:37 WIB

Demo Mahasiswa di DPR

Mahasiswa Demo di DPR Isu "Indonesia Sold Out" Bergema Rencana Aksi 25 Agustus Masih Samar

foto

Suasana ricuh saat mahasiswa berhadapan dengan aparat kepolisian dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (21/8/2025). Aksi massa diwarnai dorong-dorongan sebelum akhirnya berakhir kondusif. (Gambar : tangkapan layar)

JAKARTA, indoartnews.com – Ribuan mahasiswa kembali memenuhi kawasan depan Gedung DPR RI pada Kamis (21/8/2025). Aksi yang berlangsung sejak siang hingga sore hari itu digelar oleh aliansi Gerakan Mahasiswa Bersama Rakyat (GEMARAK), dengan membawa isu penolakan kapitalisme, oligarki, serta desakan agar sistem pendidikan nasional lebih berpihak kepada rakyat kecil.

Spanduk besar bertuliskan “Indonesia Sold Out” menjadi simbol yang mencuri perhatian publik dan ramai dibicarakan di media sosial. Koordinator lapangan aksi, Ahmad Rizqi, mengatakan mahasiswa hadir sebagai bentuk solidaritas terhadap keresahan masyarakat. “Kami hadir untuk menyuarakan keresahan masyarakat. Jangan sampai kebijakan negara hanya menguntungkan segelintir elit sementara rakyat kecil dikorbankan,” ujarnya dikutip Arrahmah.id.

Untuk menjaga ketertiban, Polda Metro Jaya menurunkan lebih dari seribu personel gabungan. Kepala Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, menegaskan pihaknya tetap memberikan ruang demokrasi. “Kami sudah menyiapkan pengamanan secara humanis. Prinsipnya mahasiswa bisa menyampaikan aspirasi, tetapi jangan sampai mengganggu ketertiban umum,” ujarnya dikutip Detik.com.

Aksi mahasiswa sempat diwarnai dorong-dorongan dengan aparat, namun berakhir relatif kondusif menjelang malam. Usai menyampaikan orasi dan tuntutan, massa kemudian membubarkan diri.

Pascaaksi ini, seruan untuk menggelar demo lanjutan pada Senin (25/8/2025) ramai beredar di media sosial. Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian apakah ajakan tersebut akan benar-benar diwujudkan, atau sekadar gaung viral di ruang digital.

Sementara itu, kelompok buruh justru menyiapkan aksi besar-besaran pada 28 Agustus 2025, dengan tuntutan kenaikan upah minimum serta penghapusan sistem kerja outsourcing.**