Sabtu, 15 Juni 2024 | 11:06 WIB
Slot Gacor Slot88 Slot Online https://wbcampa.org

Komunitas Tionghoa Kota Bandung Gagas Inovasi Mesin Pengolah Sampah Nawasena

foto

BANDUNG, indoartnews.com ~ Komunitas Tionghoa Kota Bandung telah meluncurkan inovasi dalam pengolahan sampah melalui alat yang dinamakan Nawasena. Bersama sejumlah ahli mesin, komunitas ini menciptakan mesin yang mampu mengolah sampah residu dan non-residu tanpa perlu pemilahan terlebih dahulu.

Mesin Nawasena bekerja dengan cara mengolah sampah organik dan plastik atau residu langsung melalui alat pencacah, sehingga sampah diubah menjadi potongan-potongan kecil. Potongan-potongan sampah tersebut kemudian dicampur dengan tepung tapioka dan zat aditif seperti serbuk pakan ikan, lalu dimasukkan ke dalam alat lainnya untuk diproses menjadi briket.

Briket yang dihasilkan telah diuji sebagai bahan bakar kompor khusus yang dilengkapi dengan booster menggunakan air tawar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa api yang dihasilkan tidak berbau, dan briket tersebut mampu mendidihkan air dalam waktu hanya tiga menit.

Teknisi Mesin Nawasena, Yaya Suhaya, mengungkapkan, Kamis (23/5/2024) mesin pengolah sampah ini telah digunakan di beberapa daerah lain, termasuk Indramayu yang telah memesan enam set alat ini.

Selain mesin pengolah sampah residu, Yaya juga memaparkan keberhasilan mesin kompor Biomas yang memanfaatkan sampah kayu dan daun sebagai bahan bakar, yang sudah banyak digunakan oleh pabrik-pabrik di Indramayu dan daerah lainnya.

Ketua Duta Toleransi Kota Bandung, Tan Tjong Boe, mengemukakan, pengolahan sampah menjadi briket ini memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Ia menyebut inovasi ini sebagai salah satu solusi alternatif untuk permasalahan sampah di Kota Bandung. "Mesin ini kami beri nama Nawasena, dan mampu mengolah hingga 3 ton sampah organik dan residu dalam waktu 7 jam," ujar Tan. 

Inovasi ini tidak hanya memperlihatkan komitmen komunitas Tionghoa dalam menciptakan solusi praktis dan ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat semangat kolaborasi antara masyarakat dan ahli untuk mengatasi tantangan lingkungan yang semakin mendesak.**