Senin, 6 Desember 2021 | 19:24 WIB

Visi Bandung Agamis Terus Diwujudkan Dalam Geulisan

foto

BANDUNG, indoartnews.com ~ Wali Kota Bandung, Oded M. Danial berkomitmen, dalam mewujudkan visi Bandung Agamis dilakukan dengan membuat program bernuansa keagamaan, meluncurkan program Gerakan Urang Nulisan Alqur:an (Geulisan).

Dengan mengawali program ini, pesertanya anak-anak penyintas thalassemia juga diikuti kaum disabilitas dan para pemuda hijriah yang tergabung dalam komunitas Tingweh. 

"Ini dalam menyambut ulang tahun Kota Bandung. Kita ingin mengajak masyarakat lebih membangun harmoni dan kebersamaan. Banyak pula program lain dalam menyambut Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke 211 demi bisa membuat warga Bandung semakin solid, " tegas Oded saat Geulisan di SEMO Jl. Riau, Rabu (22/9-2021).

Lewat Geulisan ini, para peserta diajak untuk menebalkan tulisan Arab dari cetakan Alquran yang dibuat samar. Masing-masing peserta dibagi tugas untuk menebalkan ayat Alquran dari surat yang berbeda-beda.

Oded mengatakan, program Geulisan bukan hanya sebatas gebrakan menjalang peringatan HJKB saja. Namun, bakal menjadi gerakan berkesinambungan guna mewujudkan visi Bandung Agamis, khususnya bagi pemeluk agama islam.

“Saya berharap ini menjadi sebuah gerakan yang bisa membantu mencintai Alquran. Tadi di sini dimulai dengan ana-anak thalasemia, ada pemuda hijriah, ada disabilitas. Besok insyaallah dengan para camat. Jadi nanti geulisan ini per kecamatan nulis 1 juz,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Oded berinteraksi dengan setiap peserta dan berbagi semangat dengan para disabilitas serta penyintas thalaasemia.

Dia berharap, Geulisan juga bukan hanya sekadar belajar menulis, tetapi turut mengkaji sisi spiritualitas yang terkandung dalam Alquran. 

“Dinamika kehidupan itu macam-macam, ada yang mendapatkan ujian selalu menyenangkan ada pula yang sebaliknya. Jangan merasa berkecil hati. Justru ini bagian dari kecintaan Allah,” terangnya. 

Begitupun kepada para pemuda hijrah, Oded turut memberikan suntikan motivasi. Dia menyatakan, tidak ada kata terlambat untuk belajar, tanpa terkecuali dalam konteks menekuni ilmu agama guna memperbaiki kehidupan.

“Hatur nuhun luar biasa ‘surprise’ sekali hari ini. Akang-akang ini walaupun bertato tapi sudah menyatakan berhijrah. Mudah-mudahan menjadi sebuah model seperti halnya zaman dahulu sahabat Umar bin Khatab,” ungkapnya.

Secara pribadi, Oded mengundang para pemuda hijrah tersebut untuk datang ke Pendopo Kota Bandung untuk bersama-sama berdiskusi masalah keagamaan. 

“’Tong keueung, bingung ieu tato kumaha’, insyaallah Allah itu maha pengampun. Sekali-kali ayo datang ke pendopo kita ngaji bareng Mang Oded,” imbuhnya.

Antusiasme para peserta Geulisan ini ditunjukan dengan keseriusan para peserta dalam menebalkan ayat Alquran. Bahkan, salah seorang pemuda hijrah pun turut membacakan ayat yang ditulisnya.

Adalah Opet, salah seorang peserta dari komunitas pemuda hijrah Tingweh mengaku sangat terartik ketika diajak untuk mengikuti Geulisan. Pria yang dua tahun terakhir memperdalam ilmu agama ini bahkan ingin turut mengajak teman-temannya yang lain untuk bergabung.

“Biar bacanya lebih bisa dan lebih detail tulisnya. Buat ke teman-teman kami, jangan takut buat belajar baca Quran. Tidak ada kata telat,” kata Opet. 

Sementara dari pihak penyelanggara, Ujang Koswara yang menjadi kolaborator Pemkot Bandung untuk program Geulisan ini mengaku menangkap semangat yang sama dengan semangat yang digelorakan kepemimpinan Oded dan Yana Mulyana dalam menciptakan Bandung Agamis.

Uko, panggilannya, juga menilai, di tengah pandemi Covid-19 ini perlu semangat bersama untuk kembali membangkitkan sendi kehidupan baik secara sosial maupun ekonomi. Salah satunya melalui Geulisan yang memakai pendekatan secara spiritualitas.

“Pertama, dampak pandemi semakin panjang dan masyarakat sudah ‘aral’. Jadi itu harus dibuka dengan ada nuansa baru tentang pesan moral. Akhirnya pendekatannya adalah religi,” ucap Uko.

Uko mengungkapkan, para peserta dari penyintas thalassemia justru yang meminta untuk ikut berpartisipasi dalam Geulisan. Begitupun dari para pemuda hijrah yang ingin turut berbagi semangat dalam belajar tentang alquran.

“Mereka punya keterbatasan. Kebayang yang ditato itu kapan ngajinya? Tapi dengan menulis seperti ini beberapa kali, mereka bisa ikut ngaji juga," katanya.

"Ini juga bukti bahwa orang bisa membaca dan menulis Alquran bukan karena pelajaran tapi soal niat. Anak-anak dengan keterbatasan masih bisa nulis,” katanya.**

Editor : H. Eddy D