Minggu, 9 Mei 2021 | 01:43 WIB

Seburuk Apapun Kualitas Air Dengan Teknologi Jadi Bersih

foto

Administrator

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening, Sonny Salimi

BANDUNG, indoartnews.com ~ Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening, Sonny Salimi menegaskan, seburuk apa pun kualitas air secara teknologi dipastikan dapat menjadi lebih baik, lebih bersih.

Hal itu dikemukannya pada kegiatan Bandung Menjawab saat peringatan Hari Air Seduni, Selasa (23/3-2021). Peringatan Hari Air Sedunia (World Water Day) jatuh pada hari Senin 22 Maret 2021 dengan tema Valueing Water atau menghargai air.

Tetapi, kata Sonny, semakin buruk semakin banyak SDM yang dibutuhkan, bahan kimia lebih banyak, listrik lebih banyak dan lainnya.

"Ini artinya ketika kualitas air menjadi buruk bukan hanya kita yang terdampak melainkan juga makhluk lainnya karena ada makhluk lain yang juga terdampak," tegas Sonny.

Kepada masyarakat, Sonny mengingatkan, untuk memiliki kesadaran dan tanggungjawab guna menjaga mau pun menggunakan air. "Kami terus berupaya mengingatkan masyarakat bertanggung jawab menjaga air dan lingkungannya," tuturnya.

Ia pun menggambarkan kebutuhan air secara riil untuk 2,5 juta penduduk Kota Bandung mencapai 6000 liter per detik. Karena itu, Sonny mengingatkan pula agar masyarakat hemat menggunakan air dan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Menurut Sonny pula, proyeksi kebutuhan air PDAM Tirtawening Kota Bandung pada 2021 yaitu kapasitas air sebanyak 3.500 liter per detik.@ "PDAM mampu mengolah air 2.500 liter per detik dan kebutuhan riil sesuai dengan teori sebanyak 6.000 liter per detik. Ini berarti masih ada gap 3.500 liter per detik, " jelasnya.

Saat ini, katanya, PDAM Tirtawening tengah menjalin kerja sama dengan Perum Jasa Tirta II untuk penyediaan air curah berasal dari Waduk Saguling untuk mengantisipasi ketersediaan air di masa yang akan datang.

Rencananya, pembangunan tuntas pada tahun 2023 dengan jarak sekitar 16 km. Air yang bersumber dari Curug Jomponh ini bisa langsung didistribusikan PDAM Kota Bandung kepada masyarakat. "Mudah-mudahan awal 2022 proyek ini bisa dilaksanakan dan tentunya bisa menambah cakupan pelayanan," ucapnya.

Sementara Kepala Seksi Pencegahan Pencemaran Lingkungan dan Dampak Perubahan Iklim, Deti Damayanti mengatakan, pencemaran terbesar disebabkan air moderistik. Sehingga dalam hal ini, masyarakat memegang peranan penting dalam menjaga kualitas air dan lingkungan.

"Kami memiliki program dari Kementerian Lingkungan Hidup yaitu program iklim. Salah satunya, menjaga kualitas air dan upaya-upaya menghemat air dan menjaga kualitas air," kata Deti seraya menambahkan, di Kota Bandung sudah banyak kampung iklim yang terdaftar dan untuk itu ia yakin masyarakat mampu menjaga lingkungan.

"Hingga 2020 tercatat 10 kampung iklim, 4 proklim utama yakni Cibunut, Mandalajati, Arcamanik dan Sukaluyu serta 6 proklim madya. Jika ini digerakan in sya Allah masyarakat bisa mengelola iklim, " jelasnya.**

Editor : H. Eddy D.