Minggu, 29 Maret 2020 | 01:46 WIB

Bupati Kab. Bandung Hadiri Penanaman Pohon di Dago Pakar Sektor 22

foto

Elly Susanto

BANDUNG, indoartnews.com ~ Penanaman bibit pohon di Dago Resort Kab. Bandung yang berada di wilayah Sektor 22 dilaksanakan Selasa kemarin (25/2-2020) dihadiri 4 Kepala Daerah yang diwakili oleh masing-masing Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan perwakilan dari Kodam III/Siliwangi. 

Pada awal penanaman bibit pohon hari itu ditanam 500 bibit pohon dari yang sudah tertanam sebanyak 2.600 pohon keras di antaranya 890 pohon buah-buahan. 

Dari seluruh bibit pohon itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung menyumbang 250 bibit pohon yang diserahkan oleh Kepala DLH, Gingin Ginanjar.

Dansektor 22 Kol. Inf. Asep Rahman Taufik saat mengomandoi penanaman bibit pohon itu mengemukakan, sebelum acara ini, Sektor bersama 40 orang warga merundingkan acara penanaman bibit pohon. Warga berpartisipasi dalam acara ini dan siap melaksanakannya.

Tindak lanjutnya dilaksanakan oleh Subsektor bersama para Kepala Desa untuk mengedukasi masyarakat agar mereka sebagai penggarap kelak memelihara tanaman. Sebabnya, hasil tanaman, khusus buah-buahan kelak akan dinikmati oleh mereka.

Menurut Kolonel Asep, dengan upaya penanaman bibit pohon keras dan buah-buahan dengan cara tumpangsari diharapkan mampu mengatasi lahan kritis di luar wilayah ini yang luasnya mencapai 1.430 hektar.

Sementara itu, Bupati Bandung H. Dadang Naser mengapresiasi Kodam III/Siliwangi dalam upaya menjernihkan kembali Citarum dengan program Citarum Harum.

Di antaranya dengan program penghijauan, seperti yang dilaksanakan penanaman bibit pohon di Dago Pakar yang menyangkut 4 Daerah, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat (KBB), Kota Cimahi dan Kota Bandung.

Pemkab Bandung Barat sendiri telah membatasi pembangunan fisik hanya 20% dan sisanya untuk ruang terbuka hijau (RTH). Pembatasan ini dimaksudkan agar pada musim hujan banyak resapan.

Karena itu, di wilayah Kab. Bandung sendiri saat ini disosialisasikan upaya sabuk gunung dengan terasering di setiap "gawir" ditanami tanaman keras dan petani bercocok tanam namun tak menimbulkan dampak areal di bawahnya.

Ia pun memberi gambaran sabuk gunung yang dimaksudkan, dengan jarak 2 meter dari "gawir" gunung ditanami pohon keras semacam kaliandra dan rumput dodot untuk pakan ternak atau ditanami pohon buah-buahan.

Bupati pun sedang menyiapkan pembangunan pengganti situ yang hilang dan tetap selalu mengadakan pendekatan dengan masyarakat.**