Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02 WIB

Kebun Binatang Bandung

Kebun Binatang Bandung Jadi Ikon Budaya, Farhan Sebut Bagian Tradisi Warga

foto

Salah satu satwa gajah di Kebun Binatang Bandung yang menjadi bagian dari upaya pelestarian satwa sekaligus ikon wisata dan budaya di Jawa Barat

BANDUNG, indoartnews.com – Kebun Binatang Bandung tidak sekadar menjadi destinasi wisata, tetapi juga telah menjelma sebagai bagian dari budaya masyarakat Jawa Barat yang melekat dari generasi ke generasi.

Tempat yang akrab disebut “Derenten” ini memiliki nilai historis yang kuat. Sebutan tersebut berasal dari istilah lama yang merujuk pada kebun binatang dan hingga kini masih digunakan oleh masyarakat sebagai bagian dari tradisi.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa keberadaan kebun binatang harus terus dipertahankan, tidak hanya sebagai lembaga konservasi, tetapi juga sebagai warisan budaya masyarakat.

“Dari dulu ada ungkapan, tidak terasa Lebaran kalau tidak ke Derenten. Ini menunjukkan bahwa kebun binatang sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat,” ujar Farhan saat berada di Kebun Binatang Bandung, Kamis 26 Maret 2026.

Menurutnya, terdapat tiga alasan utama mengapa Kebun Binatang Bandung harus tetap dijaga. Pertama adalah nilai historis dan budaya yang telah mengakar kuat di masyarakat. Kedua, penghargaan terhadap kontribusi pengelolaan sebelumnya, termasuk peran keluarga Bratakusumah dalam membangun dan merawat kebun binatang.

Alasan ketiga adalah keberadaan para pegawai yang telah puluhan tahun mendedikasikan diri untuk merawat satwa. Mereka dinilai sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kebun binatang sebagai lembaga konservasi.

Selain nilai budaya, Farhan juga menyoroti pentingnya peran kebun binatang dalam pelestarian satwa endemik Jawa Barat. Beberapa di antaranya seperti surili, macan tutul Jawa, hingga owa menjadi fokus dalam upaya pengembangbiakan.

Bahkan, ia membuka peluang keterlibatan dalam pelestarian satwa langka seperti badak Jawa yang populasinya terbatas di wilayah Banten dan Jawa Barat.

“Kita harus menjadi bagian dari upaya pelestarian satwa langka, termasuk yang endemik. Ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Di sisi lain, Farhan juga mengakui bahwa pembenahan kebun binatang tidak lepas dari berbagai tantangan. Kritik masyarakat, termasuk terkait kejadian sebelumnya, menjadi bagian dari proses evaluasi yang harus disikapi secara terbuka.

Ia menegaskan pentingnya transparansi dalam pengelolaan agar masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap kebun binatang sebagai aset bersama.

Saat ini, penguatan pengelolaan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari BBKSDA, Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan Jawa Barat, hingga Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung.

Farhan juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena Kebun Binatang Bandung masih belum dibuka untuk umum. Penutupan sementara dilakukan guna memastikan sistem biosekuriti berjalan optimal.

“Kami ingin memastikan semuanya siap dan aman. Setelah itu kebun binatang akan kembali dibuka untuk masyarakat,” tutupnya.**