Selasa, 14 April 2026 | 18:33 WIB

Lampu Gentur Cianjur

Lampu Gentur Warisan 1820, Pengrajin Cianjur Tembus Pasar Internasional Berkat Dukungan BRI

foto

CIANJUR, indoartnews.com – Di balik gemerlap lampu hias yang menghiasi hotel mewah hingga hunian elegan di Indonesia dan mancanegara, tersimpan dedikasi para pengrajin Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Kerajinan Lampu Gentur yang telah ada sejak 1820 kini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat.

Awalnya, Lampu Gentur dikenal sebagai lampu cempor berbahan minyak tanah yang digunakan untuk penerangan anak-anak mengaji. Seiring perkembangan zaman, kerajinan tersebut bertransformasi menjadi karya seni elektrik berbahan kuningan dan kaca bertekstur. Keahlian ini diwariskan secara turun-temurun dan dipelajari secara otodidak, menciptakan klaster pengrajin yang khas dan tidak ditemukan di daerah lain.

Salah satu pengrajin yang aktif mengembangkan usaha ini adalah Salmanudin. Sejak 2019, ia tidak hanya memproduksi lampu, tetapi juga menghadirkan inovasi berupa hantaran khas Gentur berbahan kaca dan kuningan. Produknya telah menembus pasar Malaysia dan rutin dikirim ke Palembang setiap minggu.

Hal serupa dilakukan Gugun Gunadi yang dalam lima tahun terakhir konsisten memenuhi permintaan pasar domestik, terutama wilayah Sumatera dan Surabaya. Konsistensi produksi dan kualitas menjadi kunci keberhasilan mereka bertahan dan berkembang.

Perkembangan klaster Lampu Gentur tidak lepas dari dukungan sektor perbankan. BRI Branch Office (BO) Cianjur melalui BRI Unit Cikaroya tercatat menjadi mitra utama yang mendukung produktivitas para pengrajin.

Pemimpin Cabang BRI BO Cianjur, Harry Wahyudi, menyatakan komitmennya dalam mengawal pertumbuhan UMKM berbasis kearifan lokal tersebut. Menurutnya, Lampu Gentur merupakan salah satu aset ekonomi kreatif unggulan Cianjur.

“Saat ini BRI Unit Cikaroya telah membina sekitar 70 pengrajin di Kampung Gentur dengan total plafon kredit yang disalurkan mencapai Rp1,5 miliar. Kami tidak hanya memberikan akses permodalan, tetapi juga mendorong agar warisan budaya sejak 1820 ini mampu beradaptasi dengan pasar modern,” ujar Harry Wahyudi, beberapa waktu lalu.

Dukungan permodalan tersebut diharapkan membantu pengrajin dalam menjaga ketersediaan bahan baku, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas jaringan pemasaran.

BRI juga mengapresiasi capaian para pengrajin yang mampu menembus pasar nasional hingga internasional. “Ini membuktikan bahwa UMKM daerah memiliki kualitas kelas dunia jika didukung ekosistem keuangan yang tepat,” tambahnya.

Hingga kini, Desa Jambudipa terus hidup dengan aktivitas para pengrajin yang memadukan keahlian tradisional dan inovasi modern. Sinergi antara warisan keterampilan turun-temurun dan dukungan pembiayaan perbankan membuat cahaya Lampu Gentur tetap bersinar di pasar kerajinan nasional maupun internasional.**