Kamis, 11 Juni 2026 | 14:27 WIB

Anak Lempar Mainan untuk Selamatkan Ibu: Kisah Pilu dan Trauma di Karawang

foto

Pertengkaran dalam rumah tangga tak hanya melukai pasangan, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak. Ilustrasi ini menggambarkan situasi yang kerap tersembunyi di balik pintu rumah—saat konflik orang tua diam-diam mencetak luka psikologis pada jiwa anak. (Gambar : ilustrasi)

KARAWANG, indoartnews.com — Suara kecil itu terekam dalam ingatan yang pilu. Saat pertengkaran suami-istri memuncak di Desa Lemahmulya, Kecamatan Majalaya, Karawang, seorang anak berusia lima tahun dengan polos melempar mainan ke arah ayahnya untuk menghentikan aksi kekerasan terhadap sang ibu, Lusi Febiyani (23). Namun, upayanya tidak berhasil.

Tragedi terjadi pada Kamis dini hari, 12 Juni 2025, ketika suami korban, Bagus Setiyo Aji (26), dilaporkan menyeret dan menikam Lusi setelah pertengkaran yang diduga dipicu kecemburuan. Dalam kekacauan itu, anak sulung mereka menangis dan mencoba melerai menggunakan mainan, sedangkan bayi berusia lima bulan ditemukan tengkurap memandangi jenazah ibunya—sebuah adegan yang mengguncang jiwa siapa pun yang mendengarnya.

Menurut paman korban, Ahmad Jaelani, anaknya baru bercerita setelah situasi tenang. Bayi tersebut masih berkedip melihat jenazah ibunya dan tubuh ayahnya yang kritis setelah berusaha bunuh diri. “Anak kecil itu hanya tahu bahwa kedua orang tuanya sedang ‘mati’, dan dia yang membaca kata ‘mati’ dengan mainan,” ungkap Ahmad, menambahkan bahwa anak sulungnya berupaya membela ibu dengan melempar mainan ke ayahnya.

Warga Marah, Minta Hukuman Berat

Warga setempat dan keluarga menyatakan kemarahan atas tindakan Bagus. Mereka menuntut agar hukum bekerja tegas, terutama menyimak trauma mendalam yang dialami dua anak tersebut. “Ini jelas monster tanpa belas kasihan. Anak-anaknya kehilangan ibu. Pelaku harus dihukum berat,” kata Ahmad dengan tegas.

Polisi setempat, menurut Kapolres Karawang AKBP Fiki Novian Ardiansyah, tengah menyelidiki peristiwa ini. Bukti awal menunjukkan dugaan pembunuhan berencana, dilatarbelakangi oleh kecemburuan dalam rumah tangga

Seruan Perlindungan Anak

Kejadian ini menggarisbawahi betapa rentannya anak-anak menjadi korban tidak langsung dalam kekerasan rumah tangga. Sudah saatnya masyarakat dan aparat penegak hukum memperkuat perlindungan anak dan mempercepat layanan trauma psikologis.

Tokoh lokal yang enggan disebutkan namanya menyerukan agar kelak tidak ada lagi anak-anak yang menjadi saksi kekerasan, apalagi sampai mengorbankan perlawanan dengan mainan.

“Adegan anak yang melempar mainan adalah cermin kemanusiaan yang hancur. Ini adalah wake-up call,” katanya.

Langkah Hukum dan Harapan Keluarga

Untuk saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan. Keluarga berharap proses berjalan adil dan terbuka, serta anak-anak korban mendapat dukungan psikologis dan sosial sesegera mungkin

Tragedi ini menegaskan satu hal: KDRT bukan persoalan privat, melainkan krisis kemanusiaan yang membeku dalam ingatan anak-anak dan bisa merobek masa depan mereka.**