Di Hari Pertama Penyekatan : 610 Kendaraan Harus Putar Balik dari 8 Titik di Kota Bandung

Elly Susanto | 07 May 2021 23:00:44

()

BANDUNG, indoartnews.com ~ Pada hari pertama pelaksanaan penyekatan di 8 titik cek poin, sejumlah 610 kendaraan harus diputar balik untuk meninggalkan Kota Bandung, pada Kamis (6/5-2021) dari jam 06.00 sampai pukul 14.00.

Hal ini berdasarkan catatan Bidang Pengendalian dan Ketertiban Transportasi (PDKT) Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung.

Dishub memerinci hasil penyekatan di cek poin di 8 titik itu, dari Gerbang Tol Pasirkoja terdapat 36 kendaraan yang harus diputarbalikkan.

Yang lainnya kendaraan yang harus putar balik dari Gerbang Tol Kopo 31 kendaraan, dari Gerbang Tol Moh. Toha 106 kendaraan, dari Gerbang Tol Buahbatu 21 kendaraan, dari Tol Pasteur tercatat 32 kendaraan.

Menurut Kepala PDKT Dishub Kota Bandung, Asep Kuswara, banyak dari pengguna kendaraan yang memenuhi syarat. Yakni memiliki dokumen lengkap baik kesehatan maupun izin perjalanan.

Seperti di Pasirkoja ada 208 kendaraan, Kopo (169 kendaraan), Mohammad Toha (106 kendaraan), Buahbatu (137 kendaraan), dan di Pasteur (169 kendaraan).

"Pemeriksaan ketat tidak hanya di posko dekat gerbang tol, namun cek poin yang berada di jalur perbatasan kota. Di Cibiru kita putar balik 37 kendaraan," katanya.

Tindakan serupa juga dilaksanakan di posko cek poin Terminal Ledeng. Ada 21 kendaraan yang dipaksa memutar balik.

Ketegasan petugas dalam menindak juga terjadi di posko cek poin Cibeureum. Di pos ini, menghalau 326 unit kendaraan yang tidak mampu melengkapi dokumen kesehatan dan izin perjalanan.

“Kalau di Cibiru ada 144 kendaraan yang memenuhi syarat, Ledeng 21 kendaraan dan di cek poin Cibeureum 17 kendaraan. Artinya mereka yang lewat bisa membuktikan dokumennya secara lengkap,” katanya.

Perlu diketahui, delapan posko cek poin Kota Bandung akan terus bersiaga selama 24 jam pada 6-17 Mei 2021 ini. Kendati berada di dalam wilayah aglomerasi, namun penyekatan tetap dilakukan guna mengantisipasi meningkatnya mobilitas masyarakat yang dapat memicu lonjakan kasus Covid-19.**

Editor : H. Eddy D