Mau Kuliah Sambil kerja di Jepang? Ke USB YPKP aja!

Ken Zanindha | 11 October 2021 14:54:18

Rektor USB YPKP Dr. H. Asep Effendi (kanan) dan CEO LPK Nakayoshi Gakuin Centre usai penandatanganan MoU Kerjasama, Senin (11/10/2021).()

BANDUNG, indoartnews.com ~ Bagi calon mahasiswa yang ingin kemudahan bekerja dan magang sekaligus kuliah di Jepang. Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung akan memfasilitasi dan menyediakan hal tersebut.

USB YPKP Bandung menggandeng LPK Nakayoshi Gakuin Center akan memfasilitasi bagi calon mahasiswa dan pekerja Indonesia yang ada di Jepang untuk bisa sambil kuliah di USB YPKP jenjang D3, S1 dan S2. Dengan sistem pembelajaran online.

Selain untuk calon mahasiswa atau pekerja Indonesia di Jepang, melalui program kerjasama antara Universitas Sangga Buana (USB) YPKP dan LPK Nakayoshi Gakuin Center juga memfasilitasi bagi alumni-alumni USB YPKP untuk bisa magang dan bekerja di Industri di negara Jepang.

Hal itu diterangkan oleh Rektor USB YPKP, Dr. H. Asep Effendi, SE., M.Si., PIA., CFrA., CRBC usai melakukan penandatanganan MoU dan MoA dengan CEO LPK Nakayoshi Gakuin Center, Dede Permana S.T, di Gedung Kampus USB YPKP, Bandung, Senin (11/10/2021).

Penandatanganan juga dihadiri oleh para Wakil Rektor Rektor USB YPKP, Direktur Program Pascasarjana, para Dekan Fakultas, Direktur Vokasi dan Direktur Kerjasama. Serta 4 orang dari tim LPK Nakayoshi Gaikin Center.

"Jadi kerjasama ini, yang pertama program pembelajaran. Ada calon mahasiswa di Jepang yang ingin kuliah di Sangga Buana melalui program ini akan difasilitasi. Jadi mereka pulang ke Indonesia, selain mendapatkan sertifikat kompetensi, mereka juga mendapatkan ijazah dari perguruan tinggi," ujar Rektor USB Asep Effendi.

"Yang kedua, kerjasama ini dibangun untuk mengirimkan alumni-alumni Sangga Buana yang ingin bekerja di Jepang melalui fasilitas kerja sama ini kita siapkan," imbuhnya.

Untuk program pembelajaran, lanjut Asep Effendi, akan dikelola oleh masing-masing pimpinan fakultas dan direktur. Saat ini dengan sistem pembelajaran online, itu memungkinkan mendapatkan peluang melaksanakan kuliah online.

"Jadi tidak ada jarak, waktu dan sekat ruang yang bisa kita tembus dengan media (pembelajaran) online," katanya.

Dijelaskan Rektor Asep Effendi, program kuliah ini tentunya berbeda dengan kelas karyawan yang saat ini sudah tersedia di USB YPKP. 

"Ini namanya juga kelas kerjasama, pasti punya karakter yang berbeda. Artinya kelas ini kelas homogen, tdiak dicampur dengan calon mahasiswa yang lain. Jadi betul-betul mereka adalah kelas kerjasama mahasiswa dari Jepang. Sehingga nanti pembelajaran, tata kelola administrasi dan sebagainya juga terpisah," terang Asep Effendi.

Untuk program studi (Prodi), lanjut Asep Effendi, semua prodi akan disediakan. Minimal satu prodi bisa memenuhi satu kelas, minimal 20 mahasiswa.

"Sementara ini masih dua atau tiga prodi saja. Kita ingin optimalkan dulu yang bisa satu kelas untuk dua puluh orang," ucapnya.

Dengan adanya kerjasama ini, dirinya berharap saling memberikan manfaat dan kemajuan serta peningkatan sumber daya manusia Indonesia di dunia industri global. "Sehingga harapan kita, alumni Sangga Buana bisa bekerja di Jepang. Dan orang-orang Indonesia dari Jepang pulang ke Indonesia untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah dari Sangga Buana," harap Rektor.

Ditambahkan Rektor Asep Effendi, saat ini untuk pembelajaran tatap muka di kampus USB YPKP Bandung hanya sebanyak 9 kelas. Hal ini berdasarkan survey yang dilakukan pihak kampus kepada mahasiswa. "Dari sekian ratus kelas yang ada, itu hanya 9 kelas yang bersedia tatap muka. Maka kami melaksanakan yang 9 (kelas) dulu, yang lainnya nanti mengikuti," ungkapnya.

Jadi menurut Rektor Asep Effendi, ternyata mahasiswa itu sudah memiliki suatu habit (kebiasaan) kuliah online itu enak, sehingga mereka tidak mau (belajar) ke kampus. "Ini menjadi tantangan buat kami untuk ke depan, bahwa pembelajaran yang ada itu harus masuk di blended learning. Mungkin di semester genap akan kita masukan," jelasnya.

Sementara, bagi pihak LPK Nakayoshi Gakuin Center, dengan adanya kerjasama ini bisa meningkatkan SDM Indonesia yang sedang bekerja di Jepang. Karena menurutnya banyak minat dan ketertarikan bagi pekerja Indonesia yang ada di Jepang ingin melanjutkan pendidikan untuk jenjang karir.

"Karena kebutuhannya berbeda-beda, ada yang mereka ingin mengejar jenjang karir, dan siswa kami banyak yang pulang dari Jepang untuk kuliah lagi," ungkapnya.

Diterangkan Dede Permana, LPK Nakayoshi Gakuin Center selain menyediakan pendidikan dan pelatihan bahasa Jepang juga menyalurkan pekerja sebagai SO (Send Organization). Sejauh ini tenaga yang dikirimkan ke industri Jepang sebagian besar lulusan tingkat SMA/SMK.

"67 persen lulusan SMA. Sisanya D3 dan S1. Bekerja di bidang manufaktur, tenaga perawat dan konstruksi," ujarnya.**