Dulu Narkoba, Kini Pengusaha Kopi: Jalan Hijrah Ardi di Pinggiran Bandung

Administrator | 16 June 2025 09:10:53

Warung kopi sederhana bertuliskan “Kopi Hijrah” menjadi simbol perjalanan hidup Ardi, dari gelapnya masa lalu sebagai pengguna narkoba, menuju terang perubahan lewat secangkir kopi dan niat baik yang diseduh dengan harapan. (Gambar: ilustrasi)()

Dulu, Ardi dikenal sebagai anak nongkrong yang tak pernah jauh dari dunia malam. Di usia 21 tahun, ia sudah terbiasa memakai narkoba jenis sabu. Gengnya menyebutnya “raja temaram”, karena dia selalu hadir setiap malam, tapi hilang saat pagi menjelang.

Hidup Ardi seperti tanpa arah. Ayahnya sudah lama meninggal, dan ibunya hanya buruh cuci di salah satu rumah warga. Uang dari hasil kerja serabutan selalu habis untuk membeli barang haram. Sampai suatu malam, ia ditangkap dalam razia narkoba di sebuah kamar kosan.

Vonis dua tahun penjara dijatuhkan. Dunia Ardi runtuh.

Di balik jeruji, ia menemukan sunyi yang tak pernah ia rasakan di luar. Ia mulai rajin ikut kajian, membaca buku motivasi, dan perlahan menyusun ulang hidupnya. Salah satu sipir mengenalkan Ardi pada kegiatan pelatihan keterampilan. Dari sanalah ia belajar meracik kopi.

“Saya pikir, kalau saya bisa candu narkoba, kenapa saya tidak bikin orang candu dengan kopi yang baik?” ucapnya suatu hari, sambil tertawa kecil.

Setelah bebas, Ardi tidak kembali ke lingkungan lamanya. Ia memilih tinggal di rumah kecil ibunya dan membuka warung kopi sederhana dari hasil menabung selama di penjara. Ia beri nama “Kopi Hijrah.” Tak besar, hanya berupa tenda kecil dan meja bekas. Tapi pelanggan mulai berdatangan. Rasa kopinya kuat dan punya cerita.

Setiap cangkir yang ia seduh menjadi pengingat masa lalu. Ia tak pernah malu mengisahkan masa gelapnya. Justru itu yang membuat pelanggan merasa dekat. Di dinding warungnya, tertulis besar: “Pahitnya masa lalu bisa jadi aroma terbaik kalau diseduh dengan niat baik.”

Kini Ardi menjadi pengusaha kopi kecil yang disegani di lingkungannya. Ia sering diundang ke sekolah-sekolah sebagai pembicara motivasi.

“Dulu saya rusak karena geng. Sekarang saya bangkit karena gelas,” katanya sambil tersenyum.**

Kisah ini menunjukkan bahwa siapa pun bisa berubah. Bahkan dari titik terendah pun, seseorang bisa bangkit dan memberi harapan.