Dari Marbot Masjid ke Pangdam Siliwangi, Jejak Mayjen Kosasih Sang Jenderal Santri

Elly Susanto | 24 April 2026 18:40:27

Sosok Mayjen TNI Kosasih, Pangdam III Siliwangi yang dikenal sebagai “Jenderal Santri”, mengedepankan kepemimpinan tegas, religius, dan dekat dengan rakyat.()

BANDUNG, indoartnews.com – Tidak semua jalan menuju puncak pengabdian dimulai dari kemudahan. Bagi Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., perjalanan itu ditempa dari kehidupan sederhana, dari lantai masjid tempat ia menjadi marbot, dari kerja keras membantu keluarga, hingga akhirnya dipercaya memimpin Kodam III/Siliwangi.

Lahir pada 2 April 1971, Kosasih tumbuh dalam keluarga religius dari pasangan Ust. H. Jufran Efendi dan Hj. Siti Khadijah. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan nilai kesederhanaan, kedisiplinan, dan penghormatan kepada orang tua serta guru.

Masa kecilnya dilalui seperti anak desa pada umumnya. Namun saat remaja di Jakarta, Kosasih sudah akrab dengan kehidupan yang tidak mudah. Ia pernah menjadi marbot masjid, bekerja di toko bangunan, berjualan es mambo, hingga menjual teka-teki silang untuk membantu ekonomi keluarga.

Sebuah peristiwa di masa muda kemudian menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia pernah menyaksikan sikap tidak pantas seorang oknum tentara terhadap pedagang kecil. Dari kejadian itu, tumbuh doa dan tekad dalam dirinya untuk menjadi prajurit yang berakhlak, mengayomi, dan tidak menyakiti hati rakyat.

Tekad tersebut membawanya mendaftar sebagai calon tentara secara diam-diam. Setelah melewati proses seleksi, Kosasih akhirnya diterima di Akademi Militer Magelang dan lulus pada 1993. Sejak saat itu, jalan pengabdiannya sebagai prajurit TNI Angkatan Darat dimulai.

Dalam perjalanan militernya, Kosasih menempuh berbagai pendidikan penting, mulai dari pendidikan kecabangan Infanteri, Suslapa Infanteri, Seskoad, Sesko TNI, hingga Lemhannas RI. Ia juga mengikuti sejumlah kursus spesialis, seperti Dik Komando, sniper, intelijen kontra terorisme, bahasa asing, hingga auditor.

Di luar pendidikan militer, Kosasih juga memperkuat kapasitas akademiknya dengan meraih gelar Sarjana Ekonomi dan Magister Manajemen. Perpaduan pendidikan militer dan umum itu membentuknya sebagai perwira yang tidak hanya kuat secara komando, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial.

Kariernya di TNI AD ditempa melalui berbagai jabatan strategis. Ia pernah menjabat Danrem 062/Tarumanagara Kodam III/Siliwangi, Kepala Biro Kepegawaian Setjen Kemhan, Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Keamanan, hingga bertugas di lingkungan Sekretariat Militer Presiden.

Kosasih juga pernah berdinas di lingkungan Istana Kepresidenan sejak 2001 hingga 2007 untuk menjalankan tugas pengamanan Presiden dan Wakil Presiden RI. Pengalaman tersebut memperkaya ketelitian, kedisiplinan, dan kehati-hatiannya dalam menjalankan amanah.

Puncak kepercayaan institusi terhadap dirinya datang ketika ia ditunjuk sebagai Pangdam III/Siliwangi ke-47 berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1001/VII/2025 tertanggal 31 Juli 2025. Amanah ini menempatkannya sebagai pemimpin tertinggi Kodam III/Siliwangi yang membawahi wilayah Jawa Barat dan Banten.

Di Tanah Siliwangi, Kosasih dikenal dengan sebutan Jenderal Santri. Julukan itu tidak lahir dari simbol semata, tetapi dari latar belakang religius, kedekatan dengan nilai pesantren, serta gaya kepemimpinannya yang tegas namun tetap santun dan membumi.

Nilai santri seperti kesederhanaan, keikhlasan, kedisiplinan, serta hormat kepada guru dan orang tua berpadu dengan tradisi keprajuritan yang menuntut keberanian, loyalitas, dan ketegasan. Perpaduan itu membuat sosoknya dikenal kuat dalam komando, namun tetap menyejukkan dalam pendekatan.

Sebagai Pangdam III/Siliwangi, Kosasih memikul tanggung jawab besar dalam pembinaan satuan, kesiapan prajurit, pengamanan wilayah, serta penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, ulama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen bangsa.

Sepanjang pengabdiannya, Kosasih juga menerima berbagai tanda kehormatan negara, di antaranya Bintang Yudha Dharma, Bintang Kartika Eka Paksi, Bintang Bhayangkara, serta sejumlah Satyalancana atas kesetiaan, pengabdian, dan penugasan yang telah dijalankan.

Pengalaman tugasnya tidak hanya berlangsung di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Ia pernah menjalani penugasan dan pengamanan VVIP di berbagai negara, yang memperluas wawasan kepemimpinannya dalam menghadapi tantangan keamanan modern.

Di balik perjalanan panjang itu, Kosasih didampingi sang istri, Asri Wiraningsih, serta dua putrinya, Alfia Tasya Karisa dan Adelia Naila Karisa. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam setiap langkah pengabdiannya.

Kini, kehadiran Mayjen TNI Kosasih di Tanah Siliwangi membawa pesan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari pangkat dan jabatan. Ia tumbuh dari doa, kerja keras, pengalaman hidup, serta nilai keimanan yang kuat.

Dari marbot masjid hingga menjadi Pangdam III/Siliwangi, jejak hidup Kosasih menjadi kisah tentang pengabdian yang berakar pada rakyat. Tegas dalam tugas, santun dalam sikap, dan menjadikan jabatan sebagai jalan ibadah, itulah wajah Jenderal Santri di Tanah Siliwangi.**