Dari Housekeeping Hotel ke Studio Rekaman, Asep Mulyana Menata Mimpi di Jerman

Elly Susanto | 16 April 2026 19:18:30

Asep Mulyana Suherman saat tampil bernyanyi dalam acara malam Natal di ballroom Hotel Sonnenhof Aspach, Jerman.()

CIMAHI, indoartnews.com – Tidak semua panggung lahir dari sorot lampu dan tepuk tangan. Ada yang justru bermula dari lorong hotel, tumpukan pekerjaan, dan keberanian untuk bertahan ketika hidup memaksa arah berubah. Dari fase jatuh bangun itulah, nama Asep Mulyana Suherman kini kembali menemukan jalannya, bukan di Indonesia, melainkan di Jerman, tempat ia sedang menyiapkan langkah baru menuju rekaman album.

Kisah itu dituturkan Asep saat ditemui di sela acara haul almarhumah Hj. Faridah di kediaman Agus Rahman Efendi, Jalan KH Usman Dhomiri, Cimahi, Kamis 16 April 2026. Kepulangannya ke Tanah Air untuk sementara waktu bukan sekadar pulang kampung, tetapi juga membawa cerita tentang perjalanan hidup yang berbelok jauh, dari panggung KDI, usaha kuliner, lorong housekeeping hotel, hingga kini menuju studio rekaman di Jerman.

Perjalanan itu tidak datang dalam semalam. Asep, yang dikenal sebagai jebolan KDI 4 tahun 2007, pernah lebih dulu mencicipi panggung hiburan saat mengikuti ajang pencarian bakat tersebut. Kala itu ia lolos dari sekitar 7.000 peserta audisi dan menjadi satu-satunya wakil laki-laki dari Jakarta. Di masa yang sama, ia juga masih menjalani kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Jakarta sambil sesekali tampil bernyanyi di berbagai acara.

Selepas itu, hidupnya tak langsung berjalan lurus ke dunia musik. Asep sempat membuka usaha kuliner The Kasturi Cafe and Resto di Cimahi yang berjalan sejak 2014 hingga 2021. Namun pandemi Covid-19 membuat usahanya tak bisa dipertahankan. Dari titik itu, ia banting setir ke dunia kerja perhotelan dan sempat bekerja di Hotel Riau, sebelum akhirnya mencoba peluang baru ke luar negeri.

Tahun 2023 menjadi awal langkah besarnya menuju Jerman. Melalui jalur perekrutan kerja lewat Eurojob, Asep mengikuti seluruh proses yang tidak singkat, mulai dari kursus bahasa di Goethe-Institut Bandung, pengurusan berbagai dokumen, hingga wawancara di Kedutaan Jerman di Jakarta. Setelah seluruh tahapan dilalui, ia diterima bekerja di Hotel Sonnenhof Aspach, yang berada di kawasan Aspach, Backnang, Baden-Württemberg, Jerman.

Di hotel itulah arah hidupnya kembali berubah. Awalnya Asep bekerja di bagian housekeeping dan bahkan dipercaya menjadi supervisor. Namun bakat menyanyinya kemudian terdengar oleh pihak hotel. Dari sana, ia mulai diperkenalkan kepada keluarga Ferber, pemilik hotel, dan diberi kesempatan menunjukkan kualitas vokalnya di hadapan mereka.

“Waktu itu saya dites nyanyi, dan antusiasnya luar biasa. Dari situ saya mulai diberi kesempatan terus bernyanyi di hotel,” ujar Asep Mulyana Suherman.

Asep menyebut salah satu sosok yang paling berjasa membuka jalannya adalah Katrin Boycen Ferber, yang pertama kali memperkenalkannya kepada lingkungan pemilik hotel. Dari seorang pekerja biasa, Asep kemudian mulai mendapat tempat lebih istimewa karena bakat yang dimilikinya. Ia diberi ruang tampil dalam live music hotel, membawakan lagu-lagu berbahasa Inggris dan Jerman, bahkan mengadaptasi sejumlah lagu Indonesia dan dangdut ke nuansa bahasa Jerman.

Pengalaman pertama kali bernyanyi di Jerman menjadi momen yang sangat membekas baginya. Ia mengaku sempat tegang karena harus tampil di tengah budaya, bahasa, dan karakter penonton yang sangat berbeda dengan Indonesia. Namun keyakinan untuk membuktikan diri membuat ia berani mengambil kesempatan itu dan menjadikannya pijakan baru dalam perjalanan karier.

Seiring waktu, panggung Asep tak lagi hanya berada di hotel. Ia mulai dipercaya tampil dalam berbagai acara komunitas Indonesia di Jerman, termasuk di lingkungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt. Dalam sejumlah agenda kebudayaan, ia membawakan lagu-lagu Indonesia, termasuk lagu dangdut dan lagu bernuansa tradisional, sebagai bagian dari promosi budaya Tanah Air di hadapan publik Jerman.

Asep Mulyana Suherman saat bersama rekan-rekannya di Jerman di sepa aktifitas bekerja di hotel sonennhof Aspach sekaligus meniti karir di dunia musik.

Perjalanan itu juga tak lepas dari dukungan keluarga. Asep menyebut saudaranya, Romi Rahadian Gusni, menjadi salah satu penyemangat terdekat yang mendampinginya selama di Jerman. Romi disebut ikut membantu mengatur pakaian, jadwal tampil, hingga merangkap sebagai asisten dalam aktivitas bermusiknya di sana.

Di balik semua itu, Asep juga menyebut nama besar Andrea Berg, salah satu penyanyi nomor satu di Jerman, sebagai bagian penting dari lingkungan yang membuka jalan karier musiknya. Dari hotel tempatnya bekerja itulah, kata Asep, pintu menuju rekaman album mulai terbuka. Ia mengaku telah dijadwalkan melakukan pemotretan cover album dan rekaman di Stuttgart pada Mei 2026 sepulang dari Indonesia, dengan total 12 lagu yang telah dipersiapkan.

“Bulan Mei saya kembali ke Jerman. Sudah dijadwalkan photo shoot dan rekaman. Saya dikasih 12 lagu untuk album,” katanya.

Bagi Asep, perjalanan dari KDI ke Jerman bukan kisah yang lahir dalam semalam. Ia melewati fase jatuh bangun, dari panggung hiburan, bisnis kuliner yang tutup, pekerjaan housekeeping hotel, hingga akhirnya kembali berdiri di depan penonton sebagai penyanyi. Semua itu, menurutnya, menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya hingga bisa berada di titik sekarang.

Meski kini kariernya mulai bangkit di Eropa, Asep mengaku tetap memikirkan masa depan secara realistis. Penghasilannya ia tabung, sebagian diberikan kepada orang tua, dan sebagian lain disiapkan untuk rencana jangka panjang. Ia masih membuka kemungkinan suatu hari kembali membangun usaha di Indonesia, termasuk membuka restoran lagi. Namun jika karier musiknya terus berkembang di Jerman, ia pun siap melanjutkan hidup di sana.

Kepada anak muda Indonesia, Asep berpesan agar tidak takut mengambil peluang jika kesempatan berkarier di luar negeri datang. Menurutnya, usia muda adalah waktu terbaik untuk mencoba, bekerja keras, dan membuka jalan baru, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dengan pengalaman serta keberhasilan yang bisa dibagikan.

“Kalau ada kesempatan, pergilah. Mumpung masih muda, tenaga masih ada, kesempatan ada. Pergi dulu, nanti setelah sukses baru berkembang di Indonesia dan membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Dari rumah keluarga di Cimahi, tempat ia pulang sejenak untuk menghadiri haul almarhumah Hj. Faridah di kediaman Agus Rahman Efendi, kisah Asep Mulyana Suherman kini terasa lebih dari sekadar nostalgia mantan peserta KDI. Ia sedang menulis babak baru hidupnya, dari lorong housekeeping hotel menuju studio rekaman dan panggung musik di Jerman.**